
Jakarta, Businessreview.id — Sejumlah proyek gas hulu migas Indonesia mendapat kepastian calon pembeli setelah penandatanganan delapan dokumen komersial dalam FOREK Hulu Migas 2026. Kesepakatan tersebut melibatkan proyek Abadi Masela, konsorsium Pertamina, serta wilayah kerja Tomori Sulawesi dan Sakakemang.
Dokumen yang ditandatangani mencakup Sales and Purchase Agreement (SPA) untuk penjualan gas alam cair atau LNG, serta Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG). Pembelinya antara lain PT Perusahaan Gas Negara (PGN), PT PLN Energi Primer Indonesia, PT Pupuk Indonesia, dan PT Panca Amara Utama.
Untuk proyek Abadi Masela, kesepakatan mencakup penjualan LNG kepada PGN dan PLN Energi Primer Indonesia serta pasokan gas kepada Pupuk Indonesia. Sementara itu, sejumlah kesepakatan yang melibatkan Pertamina dan konsorsium South Hub serta North Hub juga menghubungkan pasokan LNG dengan PGN dan PLN.
Masela Masih dalam Tahap Persiapan Pengembangan
Kesepakatan dengan calon pembeli memberi proyek gas jalur pasar yang lebih jelas. Namun, penandatanganan kontrak tidak berarti seluruh pasokan langsung tersedia.
Proyek Abadi LNG di Blok Masela masih berstatus persiapan pengembangan. Operator proyek, INPEX, mencatat tahap desain teknis awal atau FEED dimulai pada Agustus 2025. Proyek itu dirancang menghasilkan sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun dan memasok gas pipa untuk kebutuhan lokal, tetapi persiapan menuju keputusan investasi final masih berlangsung.
Baca Juga: Bahlil Minta KKKS Segera Garap Blok Migas yang Sudah Disetujui
Karena itu, besaran pasokan dan waktu penyaluran menjadi informasi penting yang perlu ditunggu. Dalam daftar kesepakatan yang tersedia, volume dan jadwal pengiriman untuk kontrak Masela belum dirinci.
Kontrak Sakakemang dan Senoro-Toili Mencantumkan Volume
Rincian volume lebih jelas terlihat pada kesepakatan yang diumumkan MedcoEnergi dan mitra KKKS. Medco menyebut menandatangani dua PJBG dan satu amendemen PJBG dalam rangkaian FOREK Hulu Migas 2026.
Untuk Wilayah Kerja Sakakemang di Sumatera Selatan, perjanjian dengan PGN mencakup 89 triliun British thermal unit (TBTU), termasuk porsi gas bagian negara, untuk periode 2027–2037. Sementara itu, kesepakatan dari Wilayah Kerja Senoro-Toili dengan Panca Amara Utama diperkirakan mencakup 205,59 miliar kaki kubik standar (BSCF).
Medco juga menyebut amendemen ketiga PJBG untuk Wilayah Kerja South Sumatera dengan PGN. Amendemen itu menambah volume kontrak 6,8 TBTU, sehingga total kontrak menjadi 16,5 TBTU.
Baca Juga: Surat Transaksi Saham RSIA Family Beredar, Kuasa Hukum Ajukan Keberatan
Rangkaian transaksi tersebut mempertemukan produsen gas dengan pembeli dari sektor kelistrikan, pupuk, dan industri. Dampaknya pada pasokan domestik akan bergantung pada realisasi produksi, kesiapan infrastruktur, serta jadwal penyaluran yang disepakati masing-masing pihak. (*)



