
Jakarta, Businessreview.id — Investasi sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) berpotensi memberi dampak ekonomi yang melampaui kegiatan eksplorasi dan produksi. Perhitungan Bank Mandiri yang dipaparkan Chief Economist Andry Asmoro memperkirakan investasi US$1 miliar di sektor ini dapat menghasilkan tambahan output ekonomi US$1,5 miliar dan menciptakan sekitar 49.000 peluang kerja.
Angka tersebut disampaikan Andry dalam Plenary Session 3 Forum Ekonomi (FOREK) Hulu Migas 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Ia menjelaskan, kegiatan hulu migas turut menggerakkan kontraktor, pemasok alat berat, perusahaan logistik, hingga penyedia jasa pendukung.
Estimasi itu menggambarkan potensi dampak investasi, bukan jaminan bahwa setiap proyek akan menghasilkan jumlah output dan pekerjaan yang sama. Besarnya manfaat dapat bergantung pada skala proyek, penggunaan pemasok lokal, kebutuhan tenaga kerja, dan kondisi wilayah operasinya.
“Investasi yang lebih besar dapat memperkecil kesenjangan antara wilayah timur dan barat Indonesia,” ujar Andry Asmoro yang tercatat sebagai Chief Economist Bank Mandiri sejak 2019.
Pembiayaan Dapat Menjangkau Vendor Lokal
Menurut Andry, dukungan perbankan tidak hanya diperlukan oleh perusahaan pemegang kontrak. Bank juga dapat menyediakan pembiayaan modal kerja dan fasilitas bagi vendor yang telah memperoleh pekerjaan dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).
Pembiayaan tersebut dapat membantu kontraktor lokal menutup kebutuhan operasional selama pekerjaan berlangsung, termasuk ketika pembayaran dari pemilik proyek belum diterima. Dengan begitu, manfaat investasi berpeluang menjangkau lebih banyak pelaku usaha dalam rantai pasok.

Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Ricky Rahmat Firdaus menjelaskan, ekosistem investasi hulu migas melibatkan banyak pihak. Pemerintah menyelaraskan kebijakan dan memberi kepastian kontrak; investor membawa modal dan teknologi; lembaga keuangan mendukung pendanaan; sementara pemerintah daerah berperan dalam perizinan, akses lahan, dan penerimaan masyarakat.
Yuzaini Md Yusof, CEO Searah Ketapang, juga mengatakan keberhasilan proyek bergantung pada dukungan lintas pihak.
“Kami sebagai investor tidak bisa melakukannya sendiri. Kami membutuhkan dukungan pemerintah, masyarakat lokal, mitra bisnis strategis, dan para kontraktor,” paparnya.
Baca Juga: Bahlil Minta KKKS Segera Garap Blok Migas yang Sudah Disetujui
Indonesia Dipandang Berpeluang Menarik Pendanaan
Managing Director sekaligus Head of Project Finance APAC MUFG, Saumitra Shrivastava, menilai Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat perannya sebagai pemasok gas di Asia. Dalam paparannya, ia menyebut cadangan gas, kegiatan eksplorasi dan produksi, serta status layak investasi sebagai faktor yang mendukung prospek pendanaan.
“Indonesia akan tetap menjadi pemasok gas yang penting dalam jangka panjang,” ungkapnya dengan nada tegas dalam acara Plenary Session 3 FOREK Hulu Migas 2026 yang bertema “Peran Kemitraan dalam Mendukung Iklim Investasi Hulu Migas” tersebut.
Saumitra juga menyampaikan kajian MUFG yang memperkirakan Indonesia dan Malaysia akan memimpin siklus investasi hulu migas di kawasan, dengan nilai investasi yang dapat melampaui US$100 miliar. Ia menyebut MUFG telah mengidentifikasi 14 transaksi atau proyek Indonesia yang mencapai keputusan investasi final (FID), sementara proyek lain masih berpotensi menyusul. (*)



