Sumur Rokan Menua, SKK Migas Soroti Beban yang Terus Meningkat

Sumur Rokan Menua, SKK Migas Soroti Beban yang Terus Meningkat
Sumur Rokan Menua, SKK Migas Soroti Beban yang Terus Meningkat

Jakarta, businessreview.id — Lapangan migas yang menua membuat upaya mempertahankan produksi semakin mahal. Di wilayah operasi Rokan, tingkat produksi yang pada 1977 dapat ditopang satu sumur, pada 2017 membutuhkan hingga 12 sumur.

Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas Desti Melanti menyebut lapangan tua memerlukan biaya operasi dan pemeliharaan yang lebih tinggi untuk menahan penurunan produksi.

“Lapangan migas yang semakin tua membutuhkan biaya pemeliharaan dan operasi yang tinggi untuk menahan laju penurunan produksi,” ujar Desti dalam diskusi di Forum Ekonomi, Keuangan, dan Komersial (FOREK) Hulu Migas 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Desti juga mencontohkan lapangan Peciko di Mahakam. Menurut dia, jumlah sumur yang dibutuhkan untuk menjaga output meningkat dari satu sumur pada 2001 menjadi 45 sumur pada 2015.

Modal dan Skema Fiskal Ikut Menentukan

Selain tantangan teknis, industri hulu migas Indonesia harus bersaing dengan negara lain untuk mendapatkan alokasi modal global. Desti menilai skema fiskal yang kompetitif diperlukan agar investor tertarik menanamkan modal dan proyek tetap ekonomis.

“Penyesuaian skema yang lebih ramah investasi dinilai sangat menentukan daya saing nasional,” kata Desti.

Baca Juga: FOREK Hulu Migas Hasilkan Kesepakatan Gas, Masela hingga Sakakemang Terhubung dengan…

Proyek juga dapat tertunda akibat proses perizinan yang lambat dan kendala pembebasan lahan. Penundaan berpotensi menambah biaya pengembangan sekaligus menggeser waktu pencapaian target produksi.

Karena itu, Desti menekankan perlunya kemudahan berinvestasi, kecepatan pengambilan keputusan, dan perizinan yang lebih sederhana. Skema bagi hasil atau split juga perlu mempertimbangkan keekonomian proyek agar investasi tetap berjalan.

IPA Minta Kepastian Kontrak Dijaga

Direktur Eksekutif Indonesia Petroleum Association (IPA) Marjolijn Wajong mengatakan Indonesia telah lama dikenal memiliki potensi migas. Tantangan berikutnya adalah membuktikan potensi itu melalui pelaksanaan proyek dan kepastian usaha.

“Penting bahwa kontrak ini dipegang dan dihormati secara jangka panjang,” kata Marjolijn, merujuk pada kontrak migas yang menjadi dasar perencanaan eksplorasi dan pengembangan lapangan. IPA sebelumnya juga menyoroti konsistensi regulasi terhadap kontrak sebagai faktor yang memengaruhi kepercayaan investor.

Hal yang sama dikatakan oleh Azmir dari Malaysia Petroleum Management (MPM) PETRONAS mengatakan lapangan migas di Indonesia dan Malaysia sama-sama menghadapi tantangan karena telah berusia matang. PETRONAS, kata dia, mendorong eksplorasi di wilayah perbatasan yang belum berproduksi.

Azmir juga menyoroti lamanya waktu dari penemuan cadangan hingga produksi pertama. Ia menyebut proses tersebut sebelumnya rata-rata memerlukan 100 bulan. MPM kini menargetkan waktu yang lebih singkat.

Baca Juga: XPeng Bidik Penjualan 500.000 Mobil di Eropa, Ingin Lampaui Ford

“Kami sekarang ini telah menetapkan target untuk mencapai akselerasi waktu dari temuan ke produksi pertama menjadi 50 bulan,” ujar Azmir.

Rangkaian paparan itu menunjukkan bahwa tantangan hulu migas tidak berhenti pada pencarian cadangan. Biaya lapangan tua, daya saing fiskal, kepastian kontrak, dan kecepatan perizinan ikut menentukan apakah potensi migas dapat berujung pada produksi. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here