Survei Colliers: Mayoritas Perusahaan Tetap Pertahankan Ruang Kantor

Survei Colliers: Mayoritas Perusahaan Tetap Pertahankan Ruang Kantor
Survei Colliers: Mayoritas Perusahaan Tetap Pertahankan Ruang Kantor

Jakarta, Businessreview.id – Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence diperkirakan mengubah cara perusahaan bekerja di kawasan Asia Pasifik. Namun, perubahan tersebut tidak serta-merta membuat perusahaan mengurangi kebutuhan ruang kantor.

Laporan Asia Pacific Workplace Insights dari Colliers menunjukkan bahwa dampak awal penerapan AI lebih banyak menyentuh struktur tenaga kerja, kebutuhan keterampilan, serta pola kolaborasi. Ruang kantor justru diperkirakan tetap memiliki peran penting sebagai tempat belajar, bertukar pengetahuan, berinovasi, dan meningkatkan produktivitas.

Sebanyak 47 persen responden memperkirakan AI akan mendorong kebutuhan terhadap format dan tipe ruang kerja yang berbeda. Proporsi ini lebih tinggi dibandingkan 36 persen responden yang memperkirakan teknologi tersebut akan mengurangi kebutuhan ruang kantor.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa AI tidak serta-merta menghapus fungsi kantor. Perusahaan justru menghadapi kebutuhan untuk menyesuaikan ruang kerja dengan struktur organisasi dan jenis pekerjaan baru yang muncul akibat perkembangan teknologi.

Managing Director Occupier Services Asia Pacific Colliers Mike Davis mengatakan, dampak langsung AI akan lebih dahulu dirasakan pada tenaga kerja dan cara pekerjaan diselesaikan.

Menurut dia, perusahaan perlu memastikan strategi tempat kerjanya berkembang sejalan dengan transformasi tenaga kerja. Kantor ke depan harus semakin mampu mendukung aktivitas kolaborasi, pembelajaran, inovasi, dan pertukaran pengetahuan.

Perusahaan Tetap Mengandalkan Kantor

Survei Colliers mencatat sebanyak 82 persen organisasi di Asia Pasifik masih menjalankan pola kerja yang berpusat pada kantor. Sekitar 80 persen responden juga tidak memperkirakan adanya perubahan berarti pada kebijakan kerja mereka dalam 12 bulan mendatang.

Fokus perusahaan kini mulai bergeser dari sekadar mengatur tingkat kehadiran karyawan menuju upaya mengukur kontribusi kantor terhadap kinerja bisnis.

Sebanyak 55 persen responden menempatkan produktivitas dan performa bisnis sebagai fungsi utama kantor. Sementara itu, 52 persen responden menilai kantor diperlukan untuk mendorong kolaborasi dan inovasi.

Persoalannya, tidak semua perusahaan telah memiliki instrumen yang memadai untuk mengukur manfaat tersebut. Satu dari empat perusahaan belum mengukur efektivitas tempat kerja secara formal, sedangkan 10 persen lainnya masih mengandalkan penilaian dari jajaran pimpinan.

Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara investasi ruang kerja dan kemampuan perusahaan membuktikan pengaruhnya terhadap produktivitas maupun hasil usaha.

Baca Juga: RUPSLB Solusi Bangun Indonesia Angkat Daniel Simanjuntak sebagai Komisaris Utama

Biaya Naik, Ruang Kantor Tidak Langsung Dikurangi

Tekanan biaya masih menjadi pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan properti. Sebanyak 75 persen responden menyebut biaya okupansi sebagai salah satu faktor utama yang memengaruhi strategi ruang kerja.

Meski demikian, penghematan tidak selalu dilakukan dengan memangkas luas kantor. Sebanyak 40 persen perusahaan berencana memperpanjang kontrak sewa di lokasi yang ditempati saat ini. Sekitar 29 persen akan mempertahankan luas kantor, sementara 17 persen memilih melakukan rekonfigurasi ruang kerja.

Hanya 13 persen perusahaan yang berencana mengonsolidasikan atau mengurangi jejak ruang kantornya dalam 12 bulan mendatang.

Data tersebut mengindikasikan terjadinya pergeseran menuju flight to performance. Dalam pendekatan ini, perusahaan mengarahkan modal ke gedung dan ruang kerja yang dinilai mampu meningkatkan kualitas tenaga kerja, produktivitas, serta pertumbuhan bisnis.

Managing Director Office Services Southeast Asia Colliers Chris Archibold menilai real estat bukan lagi tujuan utama dalam strategi tempat kerja. Fokus sesungguhnya adalah kinerja talenta.

Menurut Archibold, biaya tenaga kerja dapat mewakili sekitar 65 persen dari keseluruhan biaya bisnis, sedangkan tempat kerja fisik hanya sekitar 15 persen. Karena itu, kantor harus mampu meningkatkan hasil dari investasi perusahaan terhadap sumber daya manusia.

Perencanaan Kantor Belum Mengikuti Transformasi AI

Di tengah optimisme tersebut, Colliers menemukan kesenjangan dalam perencanaan perusahaan. Sebanyak 62 persen responden memperkirakan aktivitas kerja akan semakin bersifat lintas fungsi dan berbasis proyek.

Baca Juga: Samsung dan Telkom Jajaki Solusi Digital Terintegrasi untuk Pasar Enterprise

Baca Juga: Samsung Galaxy A08 Masuk Indonesia, Baterai 6.000 mAh Mulai Rp2,999 Juta

Namun, 57 persen perusahaan belum menyelaraskan perubahan tenaga kerja akibat AI dengan masa berakhirnya kontrak sewa dan kebutuhan kantor mendatang. Hanya 7 persen responden yang menyatakan telah sepenuhnya menyelaraskan transformasi tenaga kerja dengan perencanaan sewa kantor.

Kesenjangan ini menjadi risiko bagi perusahaan. Kontrak sewa yang tidak sesuai dengan perkembangan organisasi dapat menyebabkan ruang kerja terlalu besar, terlalu kecil, atau tidak mendukung pola kerja yang dibutuhkan.

Asia Pasifik sendiri masih dipandang sebagai kawasan pertumbuhan. Efisiensi biaya operasional menjadi pertimbangan lokasi bagi 68 persen responden, disusul akses terhadap tenaga kerja sebesar 50 persen.

Sebanyak 34 persen perusahaan tetap menjalankan ekspansi di kawasan ini, sedangkan 40 persen menyatakan belum mengubah rencana ekspansinya meskipun ketidakpastian ekonomi dan geopolitik masih berlangsung.

Survei tersebut melibatkan 313 pengguna ruang kantor korporasi di 11 pasar Asia Pasifik pada Agustus 2026, termasuk Indonesia. Karena data disajikan secara regional, hasilnya tidak dapat langsung dianggap mewakili kondisi pasar perkantoran Indonesia secara khusus. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here