Karanganyar, Businessreview.id — Perempuan Tani Sejahtera Indonesia atau PTSI mendorong perempuan, khususnya ibu-ibu tani, menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui program budidaya cabai organik di Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Ketua PTSI Annaba Alfitriah mengatakan program tersebut tidak sekadar membagikan bibit, tetapi juga memberikan pelatihan dan pendampingan hingga proses pemeliharaan tanaman.
Pada tahap awal, setiap peserta memperoleh lima bibit cabai untuk dikembangkan secara mandiri.
“Tujuannya untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga. Kami ingin mereka mandiri secara pangan dan tidak hanya mengandalkan pemerintah, APBD, maupun kepala keluarga,” kata Annaba dalam keterangan resminya, Senin, (24 Agustus 2026).
Menurut dia, pemberdayaan perempuan menjadi penting karena kebutuhan pangan rumah tangga tidak harus seluruhnya bergantung pada pasar. Sebagian dapat dipenuhi melalui pemanfaatan lahan di sekitar rumah.
Program tersebut diklaim sejalan dengan agenda ketahanan pangan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Demplot Jadi Tempat Belajar
Sebagai bagian dari program, PTSI mengembangkan demplot sekitar 250 meter persegi di Dukuh Pucung, Desa Dayu.
Lahan tersebut digunakan untuk menanam cabai dan tomat. Di lokasi yang sama juga dikembangkan budidaya lele dan ayam.
Kepala Desa Dayu Agus Susilo mengatakan demplot diharapkan menjadi contoh yang dapat diterapkan di dusun lain.
“Semoga nanti bisa berkembang, tidak hanya di Pucung saja. Kami berharap seluruh dusun di Desa Dayu bisa mengadopsi demplot ini,” ujarnya.
Pemilihan Desa Dayu juga menjadi bagian dari uji penerapan program karena wilayah tersebut memiliki karakter lahan yang relatif kering.
Jika model tersebut berjalan, pengalaman dari Desa Dayu diharapkan dapat diterapkan di kawasan dengan karakter serupa.
Baca Juga: Ekspansi ke Kalimantan Tengah, Jotun Hadirkan Flagship Store di Palangka Raya
Pendampingan Tak Boleh Berhenti
Ketua Tani Merdeka Jawa Tengah Wawan Pramono menilai tantangan utama program justru muncul setelah bibit dibagikan.
Menurut dia, keberlanjutan pendampingan akan menentukan apakah peserta mampu mengembangkan kegiatan budidaya secara mandiri.

“Jangan hanya dikasih bantuan bibit cabai, kemudian dibiarkan. Harus ada kesinambungan, pendampingan, pelatihan, dan laporan setiap tiga bulan sekali,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karanganyar Feriana Dwi Kurniawati mengatakan pemerintah daerah juga siap mendukung melalui program bantuan bibit buah yang tersedia dalam APBD Perubahan.
Bibit tersebut diharapkan dapat memperluas sumber pangan keluarga sekaligus membantu pemenuhan kebutuhan gizi.
PTSI menargetkan program yang dimulai di Desa Dayu tersebut nantinya dapat dikembangkan hingga 177 desa di Kabupaten Karanganyar.
Baca Juga: Okupansi Cove 85 Persen, Profesional Dominasi Penyewa
Annaba mengatakan PTSI juga mendapat dukungan dari PT Pupuk Sriwijaya Palembang dalam pelaksanaan program.
Bagi PTSI, pengembangan kebun pangan keluarga bukan hanya soal produksi tanaman. Program tersebut juga diarahkan agar perempuan memiliki keterampilan, kemandirian, dan peran ekonomi yang lebih kuat di tingkat rumah tangga. (*)





