Jakarta, Businessreview.id — Cove saat ini mengelola sekitar 7.000 kamar yang telah beroperasi, di luar proyek yang masih masuk pipeline, dengan tingkat okupansi rata-rata sekitar 85 persen secara blended. Perusahaan juga telah bekerja sama dengan lebih dari 150 landlord.
Country Director of Investment Cove Rizky Kusumo mengatakan pertumbuhan bisnis co-living tetap harus dibarengi seleksi lokasi dan pemetaan calon tenant.
Menurut dia, setiap pekan terdapat sekitar 40–50 calon pemilik aset baru yang berminat masuk ke bisnis bersama Cove, di luar properti yang telah siap dikelola.
Namun, tidak semua aset otomatis dikembangkan.
“End user harus menjadi perhatian. Kalau tidak ada potential user, tentu harus dipertimbangkan lagi,” kata Rizky kepada redaksi.
Cove sebelumnya melakukan studi terhadap demand, target pasar, harga kamar, kompetitor, hingga karakter bangunan sebelum memberikan rekomendasi kepada pemilik aset.
Profesional Jadi Pasar Utama
Rizky mengatakan kalangan profesional atau pekerja menjadi kelompok tenant terbesar, disusul mahasiswa.
Karena itu, ekspansi disesuaikan dengan karakter demografi masing-masing kawasan. Kawasan industri, misalnya, masih menjadi pasar yang perlu dieksplorasi lebih lanjut.
“Ekspansi harus strategis,” ujarnya.
Cove juga tidak menetapkan ukuran lahan minimum yang besar. Dalam portofolionya terdapat proyek di atas lahan sekitar 180 meter persegi yang dikembangkan hingga empat lantai.
Produk kemudian disesuaikan ke dalam beberapa kategori, yakni Basic, Classic, dan Luxury, dengan Classic menjadi kategori yang paling dominan.
Mayoritas Masih Sewa Bulanan
Sekitar 70 persen bisnis Cove masih berasal dari sewa bulanan, sedangkan sekitar 30 persen berasal dari sewa harian. Tidak semua properti membuka sistem harian karena model operasi disesuaikan dengan lokasi.
Fleksibilitas tersebut membuat portofolio Cove tidak hanya berupa co-living atau kos, tetapi juga guesthouse, boutique hotel, dan apartemen.
Di Bandung, misalnya, okupansi kamar harian Cove mencapai 95 persen, dibandingkan Surabaya 85 persen dan Bali 82 persen.
Tidak Semua Proyek Layak Dibangun
Cove tidak menyediakan modal pembangunan, melainkan memberikan layanan mulai dari konsultasi, advisory, technical service hingga pengelolaan properti setelah beroperasi.
Jika hasil studi menunjukkan demand tidak cukup kuat, Cove bahkan dapat merekomendasikan pemilik untuk tidak melanjutkan proyek.
“Kalau bikin di sini demand-nya kurang kuat… ujung-ujungnya mereka bayar servis kita untuk dikasih tahu, Pak, kebandingan enggak usah bangun,” demikian penjelasan dalam wawancara.
Properti yang kemudian tidak melanjutkan kerja sama dengan Cove disebut kurang dari 5 persen, antara lain karena demand, performa pendapatan, atau perubahan kondisi pasar.
Dengan skala 7.000 kamar dan okupansi 85 persen, Rizky menilai ekspansi co-living tetap harus dimulai dari kebutuhan tenant, bukan semata-mata ketersediaan tanah atau bangunan. (*)





