Jakarta, Businessreview.id – Presiden memberi hormat. Bukan kepada pejabat tinggi, bukan pula kepada konglomerat lama. Di hadapannya berdiri seorang pengusaha properti yang lahir dari keluarga sederhana—ibu asisten rumah tangga, ayah pedagang asongan—dan pernah mencari nafkah sebagai tukang ojek pangkalan.
Namanya Muhammad Ridwan, akrab dipanggil Wawan.
Momen itu terjadi dalam acara penyerahan akad massal rumah subsidi di Cileungsi, Bogor. Di tengah sorotan publik, Ridwan berdiri sebagai representasi dari sesuatu yang kerap hilang dalam percakapan tentang bisnis: bahwa keberhasilan tak selalu lahir dari privilese, tetapi bisa tumbuh dari kesabaran, kerja keras, dan keberanian belajar dari bawah.
Di balik target bisnis yang terdengar besar—6.000 unit rumah dan laba Rp150 miliar pada tahun depan—kisah Ridwan justru dimulai dari angka yang sangat kecil: Rp300 ribu kiriman bulanan saat ia merantau kuliah di Bandung.
Anak ART dan Pedagang Asongan
Ridwan lahir dari keluarga yang hidup pas-pasan di Medan. Ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga, mencuci dan membersihkan rumah-rumah tetangga. Ayahnya berjualan minuman dan makanan ringan dari satu keramaian ke keramaian lain.
Mereka bukan orang berpendidikan tinggi. Mereka juga bukan pemilik modal. Tapi mereka punya satu keyakinan yang tak pernah surut: anaknya harus hidup lebih baik.
“Orang tua saya sederhana sekali. Tapi dari mereka saya belajar ketulusan, tanggung jawab, dan keikhlasan,” ujar Ridwan dalam momen ekslusif podcast Penjaga Harapan.
Masa kecilnya akrab dengan hidup hemat. Makan dijatah, kebutuhan dibatasi, dan simpanan sekecil apa pun dijaga. Dari rumah yang serba terbatas itulah Ridwan belajar satu hal penting: kemiskinan boleh menjadi latar belakang, tapi tidak harus menjadi garis akhir.
Kuliah dengan Uang Rp300 Ribu, Tidur di Masjid
Saat diterima kuliah akuntansi di Bandung, Ridwan hanya dibekali Rp300 ribu per bulan. Jumlah itu, bahkan untuk ukuran masa itu, jauh dari cukup.
Sekali makan bisa menghabiskan Rp5.000. Kos-kosan jelas bukan pilihan realistis. Ia pun mencari cara bertahan.
Di kampus, ia memperhatikan berbagai organisasi mahasiswa. Di antara himpunan jurusan dan unit kegiatan lainnya, matanya tertuju pada organisasi dakwah kampus. Logikanya sederhana: kalau orang-orangnya baik, mungkin mereka juga bisa membantu.
Pilihan itu mengubah jalan hidupnya.
Ridwan lalu aktif di organisasi tersebut dan akhirnya mendapatkan tempat tinggal di sekretariat belakang masjid kampus. Bertahun-tahun ia menjalani hidup yang keras sekaligus sunyi: makan, belajar, beribadah, dan tidur di area masjid.
Bagi sebagian orang, itu mungkin fase yang ingin dilupakan. Tapi bagi Ridwan, justru di sanalah watak hidupnya ditempa.
Ia tak melihat masa sulit itu sebagai tragedi. Ia menyebutnya sebagai bagian dari “rencana Tuhan”.
Lulus Kuliah, Tapi Tak Kunjung Diterima Kerja
Setelah lulus, Ridwan merantau ke Batam dengan harapan hidup akan mulai membaik. Ia melamar ke banyak perusahaan, mengikuti berbagai tes, dan menunggu panggilan yang tak kunjung datang.
Hari demi hari berlalu tanpa kepastian.
Untuk bertahan hidup sambil menunggu pekerjaan, ia mengambil apa pun yang bisa dikerjakan. Ia menjadi ojek pangkalan, mengantar karyawan di kawasan industri seperti Muka Kuning dan Batam Center. Sesekali, ia juga masuk ke area kampus untuk menawarkan jasa mengetik skripsi. Ia tak malu.
“Selama itu halal, kenapa tidak?” katanya.
Kalimat itu sederhana, tapi justru di situlah inti dari perjalanan Ridwan. Ia tak sibuk menjaga gengsi. Ia sibuk menjaga harapan.
Gaji Rp1,2 Juta dan Tiga Pekerjaan Sekaligus
Kesempatan akhirnya datang pada 2009. Ridwan diterima bekerja di sebuah perusahaan properti di Batam sebagai staf keuangan dengan gaji sekitar Rp1,2 juta per bulan.
Secara formal, tugasnya jelas: urusan keuangan. Tapi Ridwan tidak berhenti pada deskripsi kerja.
Ia mengambil lebih banyak pekerjaan daripada yang diminta. Ia mempelajari RAB, administrasi proyek, alur bisnis properti, hingga pekerjaan-pekerjaan yang bahkan bukan ranahnya.
Teman-temannya sempat mengejek. Di Batam, ada istilah “rumah liar” untuk hunian-hunian darurat yang dibangun warga di lahan tak resmi. Karena terlalu rajin menerima tugas tambahan, Ridwan pernah dicandai: “Kamu mau jadi pimpinan proyek rumah liar, ya?”
Ia tak membalas dengan emosi. Ia membalas dengan konsistensi.
Ridwan punya prinsip yang kelak menjadi salah satu pesan pentingnya bagi anak muda: jangan terlalu cepat menuntut penghargaan sebelum meningkatkan nilai diri.
“Kalau value kita naik, perusahaan akan menilai sendiri,” ujarnya.
Dan itu benar-benar terjadi.
Karena terlalu banyak hal yang ia kuasai, perusahaan mulai bergantung padanya. Ketika ia berniat pindah, atasan bahkan memberinya kalkulator dan memintanya menulis sendiri angka gaji yang ia inginkan.
Ia tak sekadar menjadi pegawai yang rajin. Ia menjelma menjadi orang yang sulit digantikan.
Belajar Properti dari Semua Sisi
Pada 2012, Ridwan pindah ke anak perusahaan dalam grup yang sama dan dipercaya menjadi kepala keuangan. Posisi itu tampak seperti puncak yang nyaman. Gaji membaik, jabatan naik, masa depan terlihat aman.
Tapi Ridwan justru melihatnya sebagai ruang belajar yang lebih luas.
Ia tak hanya mengurus angka. Ia mempelajari penjualan, legalitas, perizinan, sertifikasi, hingga urusan kontraktor. Ia mengamati bagaimana proyek dirancang, dipasarkan, dibangun, dan diselesaikan.
Ia tidak sedang bekerja untuk selamanya. Ia sedang magang besar-besaran pada hidup.
Mimpi menjadi pengusaha sebenarnya sudah tumbuh sejak SMP. Saat itu, ayahnya pernah bertanya apa cita-citanya.
Ridwan menjawab singkat: “Saya mau jadi pengusaha.”
Bukan semata-mata karena ingin kaya, melainkan karena ia ingin suatu hari bisa membantu keluarga dan orang lain keluar dari kesulitan ekonomi yang pernah ia alami sendiri.
Keluar dari Zona Nyaman, Memulai dari Modal Pinjaman
Setelah bertahun-tahun belajar, Ridwan memutuskan mengambil langkah yang bagi banyak orang terasa gila: meninggalkan kenyamanan sebagai karyawan untuk memulai usaha sendiri.
Ia tahu risikonya besar. Sebagai karyawan, gaji datang setiap bulan. Sebagai pengusaha, tak ada jaminan apa pun.
Modal awalnya pun bukan miliaran rupiah. Pada 2018, ia meminjam Rp300 juta dari seorang kerabat dekat keluarga yang percaya pada integritasnya. Uang itu dipakai untuk membeli tanah secara mencicil selama satu tahun di Kota Serang.
Luas lahannya sekitar 9.000 meter persegi.
Setelah sertifikat dan perizinan selesai, Ridwan mengajukan pembiayaan ke bank. Dari situlah proyek pertamanya dimulai: 84 unit rumah subsidi.
Proyek itu memakan waktu dua tahun. Bagi sebagian orang, itu mungkin dianggap kecil. Tapi bagi Ridwan, proyek kecil itu adalah laboratorium paling penting dalam hidupnya.
Di sana ia belajar bahwa dalam bisnis properti, yang paling mahal bukan semen, bukan besi, bukan tanah.
Yang paling mahal adalah kepercayaan.
Baca Juga: Centrepark Raih Top Brand Award 2026, Kelola 800 Lokasi Parkir di 60 Kota Indonesia
Rumah Subsidi, Tapi Tidak Asal Jadi
Dari proyek pertama itulah Ridwan menemukan diferensiasi yang kemudian menjadi fondasi usahanya: membangun rumah subsidi dengan kualitas yang diperlakukan seperti rumah komersial.
Ia tahu citra rumah subsidi kerap buruk: jalan sempit, kualitas bangunan seadanya, lingkungan yang cepat rusak, dan akhirnya membebani pembeli berpenghasilan rendah dengan biaya perawatan tambahan.
Ridwan memilih jalan sebaliknya.
Ia memperlebar jalan kawasan hingga jauh di atas standar umum. Ia meningkatkan kualitas konstruksi. Ia membangun kawasan dengan pendekatan yang lebih rapi, lebih manusiawi, dan lebih layak huni.
Secara bisnis, keputusan itu tampak “tidak efisien”. Lahan efektif yang bisa dijual jadi lebih sedikit. Margin per unit bisa lebih tipis.
Tapi Ridwan justru melihatnya sebagai investasi jangka panjang.
“Kalau masyarakat percaya, penjualannya akan cepat,” katanya.
Dan itu terbukti.
Jika pengembang lain mungkin menjual ratusan unit dalam setahun, Ridwan bisa menjual jauh lebih cepat karena produknya dipercaya. Ia rela mengambil margin lebih tipis per rumah, asal perputaran proyek tinggi dan kepercayaan pasar terus tumbuh.
Di sinilah kecerdasan bisnisnya bekerja: bukan mengejar untung paling besar per unit, melainkan membangun sistem yang sehat, cepat, dan berkelanjutan.
Ketika Rumah Menjadi Jalan Pulang Bagi Orang Kecil
Bagi Ridwan, rumah subsidi bukan sekadar produk. Ia adalah alat mobilitas sosial.
Salah satu kisah yang paling membekas baginya datang dari seorang perempuan yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Sang ibu datang ke kantor pemasaran dengan keraguan besar. Suaminya sudah meninggal. Ia membesarkan dua anak seorang diri. Selama ini mereka tinggal menumpang di rumah orang tua, dalam ruang sempit yang tak lagi layak.
Ia hampir tak percaya dirinya bisa memiliki rumah.
Tim Ridwan membantu mengawal proses pengajuannya hingga akhirnya kredit disetujui bank. Ketika akad terlaksana, perempuan itu tak kuasa menahan haru.
Bagi Ridwan, momen seperti itulah yang membuat bisnisnya terasa punya makna.
“Kalau cicilannya sama-sama dibantu negara, kenapa kualitas rumah untuk masyarakat kecil harus lebih buruk?” katanya.
Pertanyaan itu terasa menampar, karena memang selama ini rumah murah sering diperlakukan seperti barang murah. Ridwan ingin membalik logika itu.
Dari 84 Unit ke Ribuan Rumah
Setelah proyek pertama, langkah bisnisnya melesat.
Proyek kedua: 260 unit.
Proyek ketiga: 500 unit di lahan 5 hektare.
Proyek berikutnya: 23 hektare, lalu berkembang lagi hingga kini menyiapkan 60 hektare lahan pengembangan.
Jika ditotal, Ridwan mengaku telah membangun lebih dari 4.000 unit rumah, sebagian besar untuk masyarakat berpenghasilan rendah.
Kini ia menargetkan 6.000 unit rumah baru di beberapa titik, termasuk Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kabupaten Tangerang.
Dengan asumsi margin bisnisnya, target keuntungan yang ia bidik untuk tahun depan mencapai sekitar Rp150 miliar.
Angka itu tentu besar. Tapi yang lebih penting, angka itu lahir bukan dari spekulasi, melainkan dari sistem yang telah ia bangun bertahun-tahun: trust, execution, dan volume.
Bisnis yang Bertumbuh, Manfaat yang Meluas
Ridwan tak menutup mata bahwa bisnis tetaplah bisnis. Ia harus untung agar usahanya bertahan.
Tapi baginya, keuntungan finansial bukan satu-satunya ukuran.
Perusahaannya kini mempekerjakan sekitar 100 pegawai, dan bila dihitung dengan para pekerja proyek, kontraktor, serta tenaga pendukung lainnya, ratusan orang menggantungkan penghidupan pada ekosistem usaha yang ia bangun.
Dari seorang anak pedagang asongan yang dulu hidup dengan kiriman Rp300 ribu per bulan, Ridwan kini berada pada posisi yang memungkinkan dirinya menciptakan lapangan kerja dan membuka akses hunian bagi ribuan keluarga.
Transformasi itu tak datang dalam semalam. Ia dibangun oleh kebiasaan yang tampak remeh, tapi menentukan: mau belajar, mau capek, mau direndahkan, dan tidak buru-buru merasa pantas mendapat hasil besar.
Pesan untuk Anak Muda: Jangan Tergesa Menjadi Bos
Di tengah banyaknya anak muda yang ingin cepat sukses, cepat viral, dan cepat jadi “founder”, Ridwan justru menawarkan nasihat yang bertolak belakang: jangan tergesa-gesa.
Ia pernah gagal karena terlalu cepat merasa siap berbisnis sebelum benar-benar menguasai medan. Pengalaman itu mahal. Tapi justru karena itu, ia kini percaya bahwa fondasi lebih penting daripada gaya.
Menurutnya, sebelum terjun menjadi pengusaha, seseorang perlu benar-benar memahami bidang yang ingin digeluti. Belajar cukup lama bukan tanda lambat. Justru itulah bekal agar tidak tumbang terlalu cepat.
“Jangan mau di zona nyaman, tapi juga jangan terburu-buru,” katanya.
Dalam kalimat itu, Ridwan seperti merangkum seluruh hidupnya: berani bergerak, tapi tidak sembrono; berani bermimpi, tapi mau membayar prosesnya.
Membangun Rumah, Menjaga Martabat
Pada akhirnya, kisah Muhammad Ridwan bukan semata tentang bisnis properti. Ini adalah cerita tentang martabat.
Tentang bagaimana seorang anak dari keluarga kecil menolak tunduk pada nasib. Tentang bagaimana pengalaman tidur di masjid, menjadi tukang ojek, dan ditolak kerja berkali-kali tidak membuatnya pahit. Sebaliknya, semua itu justru mengajarinya melihat hidup dengan lebih jernih.
Ia membangun rumah, ya. Tapi lebih dari itu, ia sedang membangun kepercayaan—bahwa orang kecil berhak atas hunian yang layak, bahwa kerja keras masih mungkin mengubah hidup, dan bahwa Indonesia masih punya ruang bagi mereka yang mau tumbuh dari bawah.
Barangkali itu sebabnya, ketika seorang presiden memberi hormat kepadanya, yang dihormati sesungguhnya bukan hanya seorang pengusaha.
Yang dihormati adalah perjalanan. Dan perjalanan itu, seperti rumah-rumah yang ia bangun, berdiri di atas pondasi yang tak dibuat tergesa-gesa. (*)





