Presiden AIUA Terpilih: Bukan Nostalgia Sejarah, Ilmuwan Asia Wajib Cipta Masa Depan

Presiden AIUA Terpilih: Bukan Nostalgia Sejarah, Ilmuwan Asia Wajib Cipta Masa Depan
Prof.Noorhaidi Hasan bina hubungan kerjasama dengan Imam Bukhari International Scientific Research Center Uzbekistan disaksikan Duta Besar RI Ruhaini (24/5)

Yogyakarta, Businessreview.id – Terpilihnya Prof. Noorhaidi Hasan, Rektor UIN Sunan Kalijaga, sebagai Presiden Asian Islamic Universities Association (AIUA) untuk masa bakti 2026–2028 bukan sekadar pergantian kepemimpinan organisasi. Lebih dari itu, ini menjadi momen reflektif bagi dunia akademik dan industri di kawasan Asia untuk menata ulang strategi pengembangan ekonomi pengetahuan (knowledge-based economy).

Prof. Noorhaidi Hasan serukan lompatan besar 90 kampus Islam Asia menuju pusat R&D, tinggalkan romantisme masa lalu, dan pacu inovasi ala Ibn Sina.

Dalam wawancara eksklusif dengan businessreview.id, putra kelahiran Amuntai, Kalimantan Selatan, ini secara tegas mengajak para akademisi dan ilmuwan Asia untuk keluar dari zona nostalgia sejarah. Ia menilai kebangkitan peradaban tidak terletak pada kebanggaan semata terhadap masa lampau, melainkan pada keberanian menciptakan terobosan baru yang relevan dengan tantangan abad ke-21.

“Saya kira kita perlu belajar dari sejarah. Kejayaan peradaban Islam pada masa lalu lahir ketika ulama dan ilmuwan tidak mempertentangkan wahyu dan akal, agama dan sains. Tokoh-tokoh seperti Ibn Sina, Al-Khwarizmi, dan Ibn Rushd menunjukkan bahwa peradaban besar lahir dari keberanian berpikir, inovasi, dan keterbukaan intelektual,” ujarnya.

Bagi para pelaku bisnis dan pembuat kebijakan, pernyataan ini membawa pesan strategis. Di bawah kepemimpinan Prof. Noorhaidi, AIUA, yang menaungi sekitar 90 perguruan tinggi Islam se-Asia diharapkan akan bertransformasi menjadi ekosistem inovasi terbuka. Fokus utamanya adalah memperkuat riset bersama, hilirisasi temuan akademik, serta pertukaran talenta antarnegara.

Ia menilai selama ini potensi besar 90 kampus Islam Asia belum tergarap optimal sebagai pusat-pusat Research and Development (R&D) yang mampu menjawab kebutuhan industri. Padahal, dengan populasi akademik yang besar dan kearifan lokal yang beragam, kawasan ini memiliki modal sosial yang sangat kompetitif.

“Universitas-universitas Islam tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Kita harus membangun ekosistem pengetahuan yang saling menguatkan. Saya ingin memperkuat peran universitas Islam sebagai pusat peacebuilding dan kohesi sosial,” tambahnya.

Ditambahkannya bahwa pelaku Industri dan korporasi, stabilitas sosial dan kohesi antar umat beragama dan antar etnis merupakan prasyarat fundamental bagi iklim investasi yang sehat. Visi Prof. Noorhaidi menjadikan kampus sebagai perekat sosial dinilai selaras dengan kebutuhan dunia usaha akan kepastian dan harmoni di tengah fragmentasi global yang kian mengkhawatirkan.

Baca Juga: Mandatori Biodiesel B50 Berlaku 1 Juli, KAI Uji Teknis Mesin Lokomotif dan Genset

Dengan mengusung semangat Al-Khwarizmi (logika dan matematika), Ibn Sina (filsafat dan kedokteran), serta Ibn Rushd (rasionalisme), Prof. Noorhaidi optimistis bahwa kampus-kampus Islam Asia sanggup melahirkan generasi pemimpin yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki ketajaman moral dalam memimpin perubahan.

“Ilmuwan Muslim hari ini harus kembali membangun budaya ilmu, gagasan, dan inovasi,” pungkasnya.

Amanah kepemimpinan AIUA ini menjadi titik awal bagi penguatan daya saing sumber daya manusia Asia sekaligus  mampu bersaing dan membawa pengaruh nyata di kancah internasional.(rfz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here