Termez, businessreview.id – Di ujung selatan Uzbekistan, tepatnya hanya beberapa kilometer dari garis perbatasan Afghanistan, sebuah kawasan Free Trade Zone (FTZ) menjelma menjadi pusat ekonomi unik. Kawasan bernama Airitom ini layak dijuluki sebagai “Afghanistan Mini”, lantaran hampir seluruh aktivitas perdagangan dan pengunjungnya didominasi oleh warga negara tetangga tersebut.
Saat memasuki area pasar, atmosfer budaya Afghanistan terasa sangat kental melalui jajaran produk khas, pakaian tradisional, hingga kuliner yang dijajakan. Kendati demikian, kendali ekonomi sepenuhnya tetap berada di bawah otoritas Tashkent. Hal ini terlihat dari kewajiban penggunaan mata uang resmi Som Uzbekistan (UZS) untuk transaksi keuangan serta papan reklame yang wajib menggunakan bahasa Uzbek.
Demi memutar roda ekonomi perbatasan, pemerintah Uzbekistan menerapkan kebijakan pelonggaran imigrasi yang cukup agresif. Warga Afghanistan diberikan fasilitas bebas visa selama 15 hari—sebuah langkah diplomasi ekonomi yang tergolong langka untuk kawasan perbatasan yang sensitif.
Pengawasan Ketat di Tengah Fasilitas Terintegrasi
Di balik geliat pasarnya, Airitom didesain sebagai kawasan dengan standar keamanan tingkat tinggi. Jaraknya yang sangat dekat dengan wilayah konflik membuat otoritas setempat menerapkan sistem pengamanan berlapis. Setiap pengunjung yang keluar masuk kawasan, termasuk tim jurnalis maupun pelaku bisnis yang menginap di hotel bintang lima di dalam FTZ, wajib melalui pemeriksaan paspor yang ketat.
“Termez berbatasan langsung dengan Afghanistan, dan hotel itu sangat dekat ke Afghanistan. Semuanya demi keamanan,” ujar seorang petugas wisata setempat yang mendampingi tim BusinessReview (BRV) dalam peliputan khusus tersebut.
Meski demikian, ketatnya pengamanan diimbangi dengan ketersediaan fasilitas penunjang bisnis yang terintegrasi (one-stop solution). Investor dan pelaku usaha global disuguhkan infrastruktur modern yang meliputi:
- Pos imigrasi modern dan pemindai biometrik.
- Fasilitas akomodasi berupa hotel bintang lima dan hostel.
- Pusat perbelanjaan (mal) dan restoran.
- Fasilitas umum seperti ruang tunggu, taman bermain, hingga klinik kesehatan.
Infrastruktur ini sengaja dibangun untuk memberikan rasa aman bagi para pengusaha internasional yang ingin bertransaksi langsung dengan jaringan pasar Afghanistan tanpa harus mengorbankan faktor keselamatan.
Tantangan Logistik dan Konektivitas
Di balik potensi pasarnya yang besar, Airitom masih menyimpan tantangan struktural yang wajib dicermati oleh para calon investor maupun eksportir. Masalah utama kawasan ini terletak pada minimnya infrastruktur akomodasi dan transportasi massal di wilayah Termez secara umum.
Fasilitas perhotelan di pusat kota Termez dinilai masih sangat minim, sehingga para pelaku bisnis lebih memilih memanfaatkan jaringan hotel internasional (chain hotel) yang berada di dalam zona Airitom. Selain itu, koneksi transportasi publik berskala besar di wilayah ini hampir tidak tersedia.
“Transportasi besar boleh dikatakan tidak ada. Di musim padat kunjungan (high season), kami selalu terpaksa memberangkatkan bus bantuan dari Samarkand,” ungkap petugas wisata tersebut.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa bagi pelaku usaha yang ingin menjajaki pasar Airitom, manajemen rantai pasok (supply chain) dan logistik harus disiapkan matang sejak dari kota besar seperti Samarkand atau Tashkent. Keterbatasan akses transportasi lokal ini sekaligus membuka celah peluang baru yang menggiurkan bagi para penyedia jasa logistik serta agensi perjalanan bisnis (business travel).
Peluang Eksklusif bagi Pelaku Usaha Indonesia
Di tengah dinamika geopolitik dan isu konflik yang kerap menyelimuti Afghanistan, Airitom justru berhasil menawarkan narasi persaudaraan lintas batas yang aman dan produktif. Hubungan dagang yang harmonis ini memicu ketertarikan dari berbagai pelancong dan pemburu peluang bisnis internasional.
Bagi pelaku usaha asal Indonesia, kawasan perbatasan ini menyimpan potensi eksklusif. Selain mengeksplorasi ceruk pasar perbatasan Asia Tengah, perjalanan ke wilayah ini dapat dikombinasikan dengan agenda wisata religi, khususnya ziarah ke makam perawi hadis terkemuka, Imam Tirmidzi, yang terletak di Termez.
Namun, mengingat dinamika wilayah perbatasan dan keterbatasan transportasi lokal, para pebisnis maupun wisatawan dari Indonesia disarankan untuk menggunakan jasa pemandu wisata (tour guide) profesional guna memastikan kelancaran regulasi, pengaturan akomodasi, serta manajemen transportasi selama berada di kawasan. (rfz)





