Jakarta, businessreview.id — Kawasan Asia Pasifik diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi global dalam beberapa dekade mendatang. Namun di saat yang sama, kawasan ini juga tengah menghadapi perubahan besar yang mulai mengubah strategi bisnis, kebutuhan tenaga kerja, hingga arah pengembangan properti komersial.
Hal tersebut terungkap dalam laporan terbaru Colliers bertajuk Building Resilience: 5 Megatrends Redefining Corporate Real Estate yang menyoroti lima megatren utama yang mulai membentuk ulang lanskap bisnis dan properti di Asia Pasifik.
Laporan tersebut menyebut kombinasi perubahan teknologi, tekanan energi, pergeseran demografi, hingga perubahan geopolitik global kini memaksa perusahaan untuk meninjau ulang strategi lokasi bisnis, desain tempat kerja, hingga pengelolaan rantai pasok.
Asia Pasifik sendiri diperkirakan akan menyumbang sekitar 60 persen pertumbuhan ekonomi global dalam beberapa dekade ke depan, menjadikan kawasan ini semakin strategis dalam peta investasi dunia.
AI dan Infrastruktur Digital Jadi Penggerak Baru
Salah satu perubahan terbesar datang dari percepatan investasi Artificial Intelligence (AI).
Colliers menilai integrasi AI, otomatisasi, dan analitik mulai mengubah cara perusahaan beroperasi dan menentukan kebutuhan ruang kerja mereka.
Asia Pasifik disebut berkembang menjadi salah satu pusat utama investasi infrastruktur digital global, termasuk pusat data (data center) dan pengembangan talenta teknologi.
Kebutuhan terhadap infrastruktur berbasis AI diperkirakan akan mendorong perubahan besar pada sektor properti komersial, terutama perkantoran dan pusat data yang membutuhkan kapasitas energi jauh lebih besar dibanding sebelumnya.
Tekanan Energi dan Risiko Iklim Meningkat
Laporan tersebut juga menyoroti meningkatnya tekanan terhadap sistem energi di kawasan Asia Pasifik.
Permintaan listrik yang melonjak akibat pertumbuhan teknologi berbasis AI dan pusat data dinilai mulai menjadikan ketersediaan energi sebagai faktor penting dalam keputusan investasi dan lokasi bisnis.
Di sisi lain, urbanisasi yang masif membuat sejumlah kota di Asia menghadapi tekanan infrastruktur yang semakin berat.
Colliers juga mencatat risiko perubahan iklim kini mulai menjadi pertimbangan utama perusahaan global dalam menentukan lokasi bisnis jangka panjang.
Frekuensi cuaca ekstrem, banjir, hingga tekanan regulasi lingkungan dinilai dapat memengaruhi kelayakan investasi properti di sejumlah kota Asia Pasifik.
Perubahan Demografi Ubah Strategi Talent
Selain teknologi dan energi, perubahan demografi juga dinilai mulai mengubah pola bisnis di kawasan ini.
Sejumlah negara maju di Asia menghadapi populasi menua, sementara negara berkembang dengan populasi muda mulai menjadi pusat pertumbuhan tenaga kerja baru.
Kondisi tersebut membuat perusahaan global mulai menyeimbangkan strategi ekspansi antara pasar matang dan pusat talenta baru dengan pertumbuhan ekonomi lebih cepat.
Asia Pasifik Jadi Pusat Strategi Baru Global
Head of Enterprise Clients Asia Colliers, Amit Oberoi, mengatakan kombinasi perubahan teknologi, demografi, dan tekanan infrastruktur kini mengubah cara perusahaan mengambil keputusan properti.
“Perusahaan yang mengambil pendekatan proaktif terhadap perubahan ini akan berada dalam posisi lebih baik untuk menghadapi disrupsi dan membuka nilai jangka panjang,” ujarnya.
Colliers menilai Asia Pasifik kini tidak lagi hanya dipandang sebagai pasar pendukung, tetapi mulai menjadi pusat pertumbuhan, sumber talenta, hingga penghubung utama rantai pasok global.
Di tengah perubahan global yang semakin cepat, kawasan ini diperkirakan akan memainkan peran semakin sentral dalam strategi bisnis dan investasi perusahaan dunia. (ed.AS)





