Jakarta, businessreview.id – “Panik, capek, dan tidak fokus. Dalam 10 menit, uang saya hilang Rp70 juta,” ungkap aktris Asmara Abigail saat menceritakan pengalamannya menjadi korban penipuan digital di kanal YouTube Channel RJL5 – Fajar Aditya.
Kejadian itu bermula dari sebuah pesan singkat yang seolah-olah dikirim pihak jasa ekspedisi. Pesan tersebut menyebutkan bahwa paketnya gagal terkirim karena alamat rusak, dan meminta Abigail memperbarui data melalui tautan yang disertakan.
“Karena terburu-buru, saya klik link itu. Disuruh isi data, lalu transaksi pakai kartu kredit. Ternyata itu jebakan. Dalam hitungan menit, saldo terkuras,” katanya.
Modus Lama, Korban Baru
Pengalaman Abigail bukan cerita tunggal. Dalam beberapa bulan terakhir, berbagai modus serupa menghantui masyarakat: pesan WhatsApp atau SMS mengatasnamakan kurir, tautan palsu untuk “cek paket”, hingga permintaan memperbarui alamat.
Salah seorang pengguna e-commerce, sebut saja Mariah, juga pernah mengalaminya (pengalaman personal dan keluarga). Ia mengira sedang melacak kiriman. Begitu menekan link, aplikasi keuangannya diretas. Akun marketplace hingga dompet digital diambil alih. Puluhan juta rupiah raib lewat pembelian pulsa dan token listrik yang tidak pernah ia lakukan.
“Awalnya saya kira benar dari pihak kurir expedisi, apalagi link-nya mirip dan disertakan foto-foto paketnya. Tapi dalam beberapa menit semua akun saya dikuasai,” kisahnya.
Kenapa Mudah Terjebak?
Menurut pakar keamanan siber dan korban, kejahatan phishing memanfaatkan kelelahan, kepanikan, dan kelengahan korban. Tautan palsu biasanya didesain menyerupai situs resmi sehingga sulit dibedakan. Begitu korban mengisi data, kendali atas akun perbankan dan aplikasi belanja otomatis berpindah ke tangan pelaku.
Fenomena ini makin marak seiring tingginya transaksi digital di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, laporan terkait kejahatan siber berbasis keuangan meningkat signifikan sejak pandemi, terutama kasus penipuan online dan pencurian data pribadi.
Baca Juga: J&T Express Rayakan 10 Tahun dengan Semangat Bersama, Membangun Bangsa
Upaya Pencegahan: 3C dari J&T
Melihat tren tersebut, sejumlah perusahaan logistik dan perbankan mulai aktif mengedukasi publik. J&T Express, misalnya, meluncurkan kampanye 3C: Cek, Curiga, Cancel.
- Cek: pastikan sumber pesan berasal dari kanal resmi.
- Curiga: waspadai tautan asing, jangan mudah percaya jika diminta klik link.
- Cancel: segera abaikan jika ada kejanggalan.
Kampanye ini diharapkan bisa menekan jumlah korban sekaligus mendorong kesadaran digital masyarakat.
“Bukan Salah Korban”
Pengalaman Asmara Abigail dan masyarakat lainnya menjadi bukti, bahkan figur publik dan pengguna fintech yang terbiasa dengan aktivitas digital pun bisa kecolongan. “Saat fisik dan mental sudah capek, saya nggak berpikir jernih. Baru sadar setelah uang hilang. Rasanya horor,” ucap Asmara.
Pakar keamanan siber menegaskan, yang dibutuhkan bukan sekadar menyalahkan korban, tetapi memperkuat literasi digital dan kampanye kewaspadaan.
“Selama masyarakat terus diedukasi dan platform aktif mengingatkan, ruang gerak pelaku akan makin sempit,” kata salah satu korban.
Waspada, Jangan Klik Sembarangan
Kisah Abigail, Mariah, dan banyak korban lain menjadi pengingat betapa rapuhnya perlindungan data di era digital. Phishing bisa menimpa siapa saja—dari pengguna biasa hingga selebritas.
Pesannya sederhana: jangan panik, jangan terburu-buru, selalu cek ulang sebelum klik.
Karena sekali lengah, tabungan bertahun-tahun bisa lenyap hanya dalam hitungan menit. (*)





