Kediri, businessreview.id – Perjalanan ibadah umroh di Indonesia memasuki babak baru. Tidak lagi terpusat di kota-kota besar, kini arah perkembangan mulai bergerak menuju daerah, membuka peluang bagi wilayah seperti Kediri untuk tumbuh sebagai poros baru keberangkatan umroh di Jawa Timur.
Hadirnya Dhoho International Airport menjadi salah satu penanda perubahan tersebut. Bandara ini tidak hanya menghadirkan akses yang lebih dekat bagi masyarakat di wilayah lingkar Wilis—meliputi Kediri, Tulungagung, Blitar, Nganjuk, hingga Trenggalek—tetapi juga membuka kemungkinan baru dalam membangun sistem perjalanan umroh yang lebih terdesentralisasi dan inklusif.
Berdasarkan data Kementerian Agama Republik Indonesia, jumlah jamaah umroh Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah menyentuh 1,5 juta jamaah per tahun, menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar umroh terbesar di dunia. Jawa Timur sendiri termasuk kontributor utama, dengan permintaan yang terus tumbuh dari berbagai daerah, termasuk wilayah selatan yang selama ini belum memiliki akses langsung ke penerbangan internasional.
Poppy Finalia, Marketing Communication Manager dari Dhoho International Airport menjelaskan bahwa selama ini sebagian besar jamaah umroh dari Jawa Timur masih bergantung pada bandara besar seperti Surabaya. Hal ini membuat perjalanan ibadah dimulai dengan rute darat yang panjang dan melelahkan. “Jamaah tidak lagi perlu menempuh perjalanan darat berjam-jam sebelum terbang, sehingga perjalanan ibadah menjadi lebih nyaman. Selain itu, pengalaman keberangkatan yang lebih dekat dengan domisili juga memberikan rasa tenang dan nyaman, baik bagi jamaah maupun keluarga yang mengantar
Lebih dari sekadar kemudahan akses, pengembangan layanan umroh dari Kediri menjadi bagian dari visi jangka panjang Dhoho International Airport untuk tumbuh sebagai gerbang internasional baru di wilayah selatan Jawa Timur. Dalam beberapa tahun ke depan, bandara ini diproyeksikan tidak hanya melayani perjalanan umroh, tetapi juga membuka peluang rute internasional lainnya, serta mendukung mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi kawasan secara lebih luas.
“Pembukaan akses keberangkatan umroh dari Bandara Dhoho dilatarbelakangi oleh kebutuhan masyarakat Kediri dan wilayah sekitarnya yang selama ini harus melakukan perjalanan cukup jauh ke bandara lain seperti Surabaya atau Solo. Kami melihat adanya demand yang besar dari wilayah Kediri dan lingkar Wilis, sehingga Bandara Dhoho hadir untuk memberikan alternatif yang lebih dekat, efisien, dan nyaman bagi calon jamaah umroh,” jelas Poppy dalam keterangan persnya.
Dengan potensi pasar yang besar dan distribusi akses yang semakin merata, Kediri berpeluang berkembang menjadi simpul strategis baru dalam perjalanan religi nasional. Kehadiran Bandara Dhoho diharapkan mampu mendorong terbentuknya ekosistem yang lebih terintegrasi—menghubungkan infrastruktur, layanan perjalanan, hingga pelaku usaha lokal dalam satu jaringan yang saling menguatkan.
Baca Juga: South West Western Australia Hadirkan Ragam Pengalaman Baru untuk Itinerary Perjalanan Wisata 2026
Dalam konteks ini, kolaborasi menjadi kunci. Penguatan ekosistem tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada sinergi antara berbagai pihak—mulai dari operator bandara, travel agent, hingga masyarakat. Pendekatan kolaboratif ini diyakini mampu menciptakan layanan yang tidak hanya efisien, tetapi juga berkelanjutan dan adaptif terhadap kebutuhan jamaah.
UMKM lokal harus bisa ikut merasakan kesejahteraan dari hadirnya Dhoho International Airport sebagai titik keberangkatan umroh. “Kami melihat adanya multiplier effect yang positif terhadap perekonomian lokal. Aktivitas umroh dari Bandara Dhoho akan mendorong pertumbuhan sektor pendukung seperti travel agent, transportasi lokal, perhotelan, hingga UMKM.”
Peluang ini pun mulai dilirik oleh sejumlah pelaku industri. PT Capital Abadi Jaya, misalnya, melihat wilayah lingkar Wilis sebagai salah satu titik pertumbuhan baru dalam perjalanan umroh. Dengan mengembangkan inisiatif kolaborasi bersama travel agent di Jawa Timur, mereka berupaya membangun jaringan layanan yang lebih dekat dengan masyarakat, sekaligus menjawab kebutuhan akan akses yang lebih praktis dan efisien.
“Kami melihat Kediri bukan hanya sebagai titik keberangkatan baru, tetapi sebagai bagian dari perubahan arah industri umroh yang lebih merata. Ke depan, kolaborasi akan menjadi fondasi utama dalam menghadirkan layanan yang relevan bagi jamaah di berbagai daerah,” ujar staff manager dari PT Capital Abadi Jaya.
Ke depan, transformasi ini diharapkan tidak hanya memperluas akses, tetapi juga membentuk ekosistem perjalanan umroh yang lebih kuat di wilayah selatan Jawa Timur. Dengan potensi jamaah yang besar, pertumbuhan infrastruktur, serta kolaborasi lintas pelaku industri, Kediri berada pada jalur untuk menjadi salah satu pusat baru perjalanan ibadah di Indonesia.
Pada akhirnya, perjalanan menuju Tanah Suci tidak lagi dimulai dari kota yang jauh, tetapi dari tempat yang lebih dekat—dari kota sendiri, dalam sebuah ekosistem yang dibangun untuk masa depan.





