Investasi Properti Asia Pasifik Tembus US$105 Miliar pada Semester I 2026

Investasi Properti Asia Pasifik Tembus US$105 Miliar pada Semester I 2026
Investasi Properti Asia Pasifik Tembus US$105 Miliar pada Semester I 2026

Businessreview.id, Jakarta – Pasar properti komersial Asia Pasifik mencatat kinerja semester pertama terkuat sejak 2022. Nilai transaksi investasi mencapai US$105 miliar sepanjang Januari–Juni 2026, didorong kembalinya modal lintas negara dan meningkatnya minat investor terhadap berbagai sektor properti.

Laporan Asia Pacific Capital Markets Snapshot H1 2026 dari Colliers menyebut momentum investasi mulai terbentuk di sejumlah pasar utama. Investor kembali menempatkan dana pada aset perkantoran, ritel, industri, dan pusat data, dengan pertimbangan utama berupa likuiditas pasar, transparansi, dan prospek pertumbuhan jangka panjang.

Managing Director Capital Markets Asia Pacific Colliers Theo Novak mengatakan semester pertama 2026 menjadi titik balik penting bagi investasi properti di kawasan.

Menurut dia, investor semakin yakin terhadap kemampuan Asia Pasifik menyediakan likuiditas, transparansi, dan pertumbuhan berkelanjutan.

“Modal tetap aktif di kawasan dan semakin banyak kembali ditempatkan pada sektor tradisional seperti perkantoran, ritel, dan industri, sementara investor juga terus membidik tema pertumbuhan struktural seperti pusat data,” ujar Novak dalam keterangan resminya yang diterima redaksi, Jakarta, (03/08/2026).

Jepang dan Australia Tetap Menjadi Tujuan Utama

Jepang menyerap investasi properti sebesar US$25,3 miliar selama enam bulan pertama 2026.

Australia mencatat transaksi US$15,8 miliar. Kedua negara mempertahankan posisinya sebagai tujuan penting bagi modal institusional global.

Singapura menjadi salah satu pasar dengan kinerja paling menonjol. Nilai transaksi di negara tersebut mencapai US$14,1 miliar dan telah melampaui total transaksi sepanjang 2025.

Tingginya minat terhadap Jepang, Australia, dan Singapura menunjukkan investor masih mengutamakan pasar dengan skala besar, sistem transaksi yang transparan, serta partisipasi institusional yang kuat.

China juga tetap menjadi salah satu penyumbang utama aktivitas investasi regional. Nilai transaksinya mencapai US$27,5 miliar pada semester pertama 2026.

Namun, pasar China masih didominasi pelaku lokal. Pemilik asing disebut tetap lebih banyak berfokus pada pelepasan aset.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa besarnya volume transaksi tidak selalu berarti arus modal asing masuk dalam skala yang sama.

Perkantoran Masih Menjadi Sektor Terbesar

Aset perkantoran menyerap investasi sebesar US$40,2 miliar pada semester pertama 2026. Nilai tersebut menjadikannya sektor tujuan investasi terbesar di Asia Pasifik.

Sektor ritel berada di urutan berikutnya dengan nilai transaksi US$26,7 miliar.

Aset industri menarik investasi sebesar US$22,8 miliar, didukung pertumbuhan logistik, rantai pasok, dan aktivitas manufaktur.

Sementara itu, pusat data mencatat transaksi US$6,7 miliar. Sektor ini berkembang sebagai tema investasi struktural yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi digital, komputasi awan, dan kebutuhan penyimpanan data.

Kembalinya modal ke perkantoran menunjukkan investor belum meninggalkan sektor tradisional, meskipun pola penggunaan ruang kerja telah berubah setelah pandemi.

Namun, minat tidak tersebar merata. Investor cenderung memilih gedung berkualitas, lokasi utama, penyewa kuat, dan aset yang mampu mempertahankan pendapatan.

Di sektor ritel, pertumbuhan investasi mencerminkan keyakinan terhadap konsumsi domestik dan aset yang mampu mempertahankan jumlah pengunjung.

Sementara pada properti industri, investor melihat peluang dari kebutuhan gudang modern, logistik e-commerce, dan penataan ulang rantai pasok.

Modal Asing Kembali Menjadi Pembeli Bersih

Pembeli dari luar negeri menyumbang 35,9 persen dari seluruh akuisisi properti di Asia Pasifik pada semester pertama 2026.

Angka itu meningkat dibandingkan 26 persen pada 2023.

Jumlah pembelian lintas negara juga melampaui penjualan oleh pemilik asing. Kondisi tersebut menempatkan modal global sebagai pembeli bersih properti Asia Pasifik selama periode tersebut.

Kembalinya investor internasional menunjukkan persepsi risiko terhadap kawasan mulai membaik.

Namun, arus modal lintas negara masih terkonsentrasi pada pasar yang memiliki kedalaman transaksi dan kepastian keluar atau exit strategy.

Investor institusional membutuhkan pasar yang tidak hanya menawarkan potensi kenaikan nilai, tetapi juga memungkinkan aset dijual kembali ketika strategi investasi berubah.

Karena itu, likuiditas menjadi faktor yang sama pentingnya dengan imbal hasil.

Indonesia Masih Menarik untuk Aset Berkualitas

Managing Director Colliers Indonesia Mike Broomell mengatakan semester pertama 2026 menunjukkan modal masih tersedia untuk aset Indonesia berukuran besar dengan fundamental kuat.

Ia memperkirakan aktivitas investasi akan meluas pada semester kedua. Namun, pembeli tetap selektif.

Investor diperkirakan lebih menyukai gedung perkantoran utama, fasilitas kesehatan, serta transaksi yang menawarkan pendapatan tahan tekanan, operator kredibel, dan pelaksanaan yang jelas.

Pernyataan tersebut menunjukkan pasar Indonesia belum mengalami pemulihan yang merata.

Aset dengan lokasi lemah, okupansi rendah, struktur kepemilikan rumit, atau kebutuhan belanja modal besar akan lebih sulit menarik pembeli.

Sebaliknya, aset dengan pendapatan stabil dan manajemen berpengalaman memiliki peluang lebih baik memperoleh modal.

Sektor kesehatan menjadi menarik karena ditopang kebutuhan jangka panjang dan karakter permintaan yang relatif lebih tahan terhadap siklus ekonomi.

Namun, kualitas operator tetap menjadi faktor penting. Rumah sakit atau fasilitas kesehatan bukan sekadar bangunan, melainkan bisnis operasional yang membutuhkan tata kelola, tenaga profesional, dan reputasi.

Transaksi Besar Mulai Kembali

Colliers mencatat sejumlah transaksi besar di kawasan sepanjang 2026.

St Ives Shopping Village di Australia dijual kepada Iris Capital senilai US$310 juta.

PWC Tower di Selandia Baru mencatat transaksi sekitar US$339 juta dan disebut sebagai transaksi kantor aset tunggal terbesar di pusat bisnis Auckland.

Di Korea Selatan, empat transaksi dengan total US$675 juta diselesaikan dalam empat pekan.

Taiwan mencatat transaksi lahan industri senilai lebih dari US$350 juta, disebut sebagai yang terbesar di wilayah utara negara itu dalam lebih dari 20 tahun.

Di Singapura, Robertson House dijual senilai US$280 juta dan menjadi transaksi hotel yang dipimpin penasihat terbesar sejak 2023.

Rangkaian transaksi ini memperlihatkan modal mulai bergerak kembali pada aset berskala besar.

Namun, pasar belum kembali pada pola pembelian tanpa seleksi. Investor tetap menilai kualitas penyewa, tingkat pendapatan, biaya pembiayaan, kondisi aset, dan kemungkinan penjualan kembali.

Momentum Menguat, tetapi Risiko Belum Hilang

Kinerja semester pertama 2026 memperlihatkan pemulihan investasi properti Asia Pasifik semakin nyata.

Modal lintas negara kembali masuk, sektor tradisional mulai memperoleh perhatian, dan pusat data berkembang sebagai tema jangka panjang.

Namun, prospek menuju tahun rekor masih bergantung pada sejumlah faktor.

Pergerakan suku bunga, nilai tukar, kondisi ekonomi global, geopolitik, serta kemampuan pasar menjaga likuiditas akan memengaruhi keputusan investor pada semester kedua.

Kenaikan volume transaksi juga tidak otomatis berarti seluruh sektor dan negara mengalami pemulihan yang sama.

Pasar yang transparan dan likuid akan tetap lebih cepat menarik modal. Sementara pasar berkembang harus menawarkan aset berkualitas, kepastian hukum, dan struktur transaksi yang dapat dipahami investor global.

Bagi Indonesia, peluang tetap terbuka. Tetapi modal akan lebih banyak masuk ke aset yang mampu membuktikan pendapatan, kualitas pengelolaan, dan strategi eksekusi yang realistis. (ed.As)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here