Jakarta, businessreview.id — Konsep co-living kian menguat sebagai alternatif hunian urban, terutama di tengah mahalnya harga properti di pusat kota dan perubahan gaya hidup generasi muda. Operator hunian fleksibel Cove melihat tren ini terus berkembang, tidak hanya di Jakarta, tetapi juga mulai meluas ke kota-kota besar lain seperti Surabaya, Bandung, Bali, hingga berpotensi ke Malang, Semarang, Yogyakarta, dan Lombok.
Country Director of Investment Cove Rizky Kusumo mengatakan, co-living pada dasarnya merupakan bentuk communal living, yakni tinggal di satu properti dengan berbagi area tertentu bersama penghuni lain, namun tetap menjaga privasi di ruang personal masing-masing.
“Kalau disederhanakan, konsep ini memang mirip kos-kosan, tetapi yang membedakan adalah kualitas, standar, dan servisnya. Itu yang kami jaga sejak awal,” ujar Rizky dalam acara Small Group Interview Outlook Industri Co-Living Tahun 2026 di Cove Prima, Antasari, Jakarta, 9 Maret 2026.
Menurut dia, saat Cove masuk ke Indonesia pada 2020, konsep hunian bersama sebenarnya bukan hal baru. Namun, pasar saat itu belum memiliki standar yang seragam dari sisi kualitas properti maupun layanan. Karena itu, Cove menekankan kelengkapan furnitur, kualitas ruang, kecepatan layanan perbaikan, hingga standar kebersihan yang konsisten di seluruh propertinya.
Dari Kos Eksklusif ke Apartemen
Rizky menjelaskan, Cove memulai ekspansi di Indonesia dari segmen rumah kos eksklusif. Namun dalam beberapa tahun terakhir, apartemen justru menjadi salah satu sumber pertumbuhan paling signifikan.
“Di tahun 2024 sampai 2025 akhir itu kita mulai banyak masuk ke market apartemen. Tahun 2025 banyak sekali inquiry dari apartemen masuk ke kami,” katanya.
Menurutnya, tren ini tak lepas dari kondisi oversupply apartemen di Jakarta. Banyak pengembang membangun apartemen, tetapi tidak seluruh unit terserap dengan baik oleh end-user. Dalam kondisi seperti ini, pengelolaan unit melalui konsep co-living dipandang sebagai salah satu solusi untuk menghidupkan kembali aset yang belum optimal.
Cove memulai langkah tersebut melalui kerja sama dengan Lippo Karawaci di Millennium Village, Hillcrest, Karawaci, dengan mengelola 128 kamar. Selanjutnya, Cove bekerja sama dengan Keppel Land di West Vista, Daan Mogot, yang kini menjadi portofolio apartemen terbesar mereka dengan 260 unit.
Selain itu, Cove juga telah bekerja sama dengan sejumlah mitra lain seperti Taspen Property di Cengkareng, JHL di BSD melalui proyek Carstensz, Gapura Prima Group di beberapa proyek apartemen seperti GP Plaza, Mont Blanc, dan Bintaro Icon, hingga PT KAI untuk proyek yang akan hadir di Bandung.
Secara keseluruhan, portofolio apartemen yang dikelola Cove saat ini mencapai sekitar 600–700 unit yang tersebar di sekitar 10 lokasi.
Gen Z dan Milenial Jadi Penggerak Utama
Dari sisi pasar, Cove melihat permintaan paling kuat datang dari kelompok usia muda yang kini semakin sulit membeli rumah di pusat kota.
Rizky mengatakan, mahalnya harga tanah, harga rumah, dan skema KPR yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan generasi muda membuat co-living menjadi solusi antara: tetap tinggal dekat pusat aktivitas, namun dengan biaya yang lebih realistis.
“Gen Z dan milenial itu in a way sudah priced out dari beli properti. Mereka tetap kerja di Jakarta, tapi kalau beli rumah di pinggiran, waktu commuting-nya bisa satu sampai dua jam. Sementara kalau tinggal di co-living, mereka bisa tetap dekat pusat kota,” ujarnya.
Data internal Cove menunjukkan bahwa 38 persen penghuni berasal dari kelompok usia 18–24 tahun, sementara 46 persen berada di rentang usia 25–34 tahun. Ini berarti mayoritas penghuni Cove didominasi oleh Gen Z dan milenial muda.
Citra Rufina, Senior Marketing Manager Cove, menambahkan bahwa sekitar 18–20 persen penghuni merupakan mahasiswa, sementara sisanya adalah kalangan profesional. Kawasan yang paling diminati berada di Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Jakarta Barat, terutama area seperti SCBD, Kuningan, Bendungan Hilir, dan titik-titik yang dekat dengan akses transportasi publik.

Harga sewa rata-rata unit Cove saat ini berada di kisaran Rp4 juta per bulan, sementara untuk lokasi premium bisa mencapai Rp7 juta per bulan atau lebih.
Bukan Sekadar Tempat Tinggal
Salah satu hal yang ditekankan Cove adalah bahwa co-living bukan hanya soal menyewa kamar, tetapi juga soal pengalaman tinggal.
Baca Juga: Kulkas Bespoke AI Samsung Hadirkan Solusi Penyimpanan Makanan Lebih Cerdas Selama Ramadan
Selain kualitas kamar dan fasilitas, perusahaan menawarkan nilai tambah melalui kegiatan komunitas bulanan dan kerja sama dengan berbagai brand retail seperti Yellow Fit, Watsons, dan Ismaya. Namun di sisi lain, mereka tetap menjaga kebutuhan penghuni yang mengutamakan privasi.
“Privasi tetap dijaga karena kamarnya masing-masing. Kita juga punya house rules, misalnya batas jam aktivitas di area komunal, dan kalau ada tetangga ribut itu bisa dilaporkan ke customer service untuk segera ditangani,” kata Citra.
Cove mencatat, durasi tinggal penghuni juga meningkat. Jika sebelumnya rata-rata tinggal sekitar empat bulan, kini meningkat menjadi sekitar enam bulan. Indikasinya jelas: penghuni merasa lebih nyaman dan melihat value dari layanan yang ditawarkan.
Konversi Bangunan dan Peluang Baru
Selain mengelola properti yang sudah ada, Cove juga aktif melakukan konversi bangunan menjadi co-living. Sejumlah properti komersial seperti ruko dan commercial space telah diubah menjadi hunian fleksibel di beberapa lokasi seperti Fatmawati, Setiabudi, Jakarta Barat, hingga Surabaya.
Cove bahkan mulai menerima inquiry untuk mengubah bangunan non-hunian seperti rumah sakit menjadi co-living. Namun, Rizky menegaskan tidak semua bangunan cocok untuk dikonversi.
Tantangan utama ada pada layout, kebutuhan ventilasi, pencahayaan alami, pembangunan kamar mandi dalam, serta sistem piping. Menurut dia, hunian tetap membutuhkan jendela, sirkulasi udara, dan akses sinar matahari yang baik.
Faktor lokasi juga penting. Cove umumnya membidik properti yang berada dalam radius sekitar 1,5 kilometer dari stasiun MRT atau koridor transportasi publik lain. Ini berkaitan langsung dengan profil penghuninya yang sangat mengutamakan mobilitas.
Ekspansi ke Surabaya dan Kota-Kota Baru
Dari sisi pengembangan bisnis, Cove menargetkan pertumbuhan agresif sepanjang 2026. Saat ini perusahaan mengelola mendekati 250 properti di berbagai kota dan menargetkan jumlah kamar yang dikelola akan menembus lebih dari 8.000 unit pada akhir tahun.
Di Surabaya, Cove sudah memiliki sekitar 300 kamar dan mulai menghadirkan layanan harian selain sewa bulanan. Perusahaan juga tengah berdiskusi dengan sejumlah pengembang untuk membawa konsep apartemen co-living yang sukses di Jakarta ke pasar Surabaya.
Selain itu, Cove juga mulai masuk ke tahap konsultasi pembangunan dari nol bersama mitra di Surabaya dan Malang, mulai dari tahap perencanaan, desain, hingga pengawasan.
Menurut Rizky, fokus ekspansi tetap berada di Pulau Jawa, namun perusahaan juga melihat peluang menarik di Lombok, terutama dengan tumbuhnya investasi di kawasan Mandalika dan Kuta Lombok.
“Yang paling dekat mungkin Malang, selain itu Semarang, Yogyakarta, dan Lombok juga menarik. Kita lihat mobilitas, pasar kerja, wisatawan, dan potensi investasinya,” katanya.
Hunian Fleksibel Jadi Jawaban Kota Besar
Fenomena co-living menunjukkan bahwa pasar hunian urban sedang berubah. Bagi generasi muda, rumah tidak lagi semata dilihat sebagai aset jangka panjang, tetapi juga sebagai soal efisiensi waktu, akses lokasi, fleksibilitas, dan kualitas hidup.
Di tengah harga rumah yang semakin sulit dijangkau, co-living muncul sebagai jawaban pragmatis atas kebutuhan dasar: tempat tinggal yang layak, dekat pusat aktivitas, dan tetap nyaman.
“Jawaban paling sederhananya, ini adalah kebutuhan primer. Selama orang masih butuh tempat tinggal dan ingin tinggal dekat pusat aktivitas, co-living akan tetap relevan,” ujar Rizky. (*)





