Jakarta, businessreview.id — Mentor bisnis sekaligus pengusaha muda Reiner Rahardja mengingatkan para pengusaha dan investor Indonesia untuk bersiap menghadapi tantangan ekonomi pada 2026. Ia menilai, kondisi ekonomi global belum sepenuhnya pulih dan justru berpotensi memasuki fase krisis baru.
Peringatan tersebut disampaikan Reiner dalam seminar bertajuk “Navigating 2026 Economic Horizon: Strategic Preview for Entrepreneurs” yang digelar di Neo+ Hotel Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 16 Desember 2025.
“Kami menyebut fase ini sebagai pre-crisis. Krisis besar belum benar-benar datang, tapi tanda-tandanya sudah sangat jelas,” ujar Reiner.
Menurut Reiner, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan stagnan. Tekanan tidak hanya datang dari perlambatan ekonomi dunia, tetapi juga dari dinamika geopolitik dan kebijakan moneter negara-negara besar yang berpotensi mengguncang perekonomian nasional.
Salah satu sinyal kuat adalah kebijakan Jepang yang mulai menaikkan suku bunga setelah lebih dari 30 tahun mempertahankan suku bunga mendekati nol. Kondisi ini, kata Reiner, akan mengubah arus likuiditas global dan mengakhiri praktik yen carry trade yang selama ini menjadi sumber dana murah bagi banyak negara.
“Likuiditas global akan berpindah. Ini akan berdampak ke pasar keuangan, nilai tukar, hingga investasi di negara berkembang seperti Indonesia,” kata dia.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga diprediksi menghadapi gejolak ekonomi akibat dinamika politik menjelang midterm election. Secara historis, pemilu paruh waktu di AS kerap memicu ketidakpastian kebijakan fiskal dan moneter.
Tekanan global itu diperparah oleh ketidakpastian di sektor aset digital. Reiner menyoroti sikap China yang kembali memperketat regulasi kripto, terutama terhadap stablecoin, dengan alasan pencucian uang dan aktivitas perjudian. Langkah ini dinilai dapat memicu volatilitas besar di pasar kripto global.
“Banyak aset saat ini berada di level all time high. Saham, emas, kripto—semuanya terlihat menarik. Tapi justru di 2026 potensi koreksi besar sangat terbuka,” ujar Reiner.
Ia bahkan memperingatkan potensi pecahnya AI bubble. Menurutnya, investasi di sektor kecerdasan buatan saat ini terlalu mahal, sementara dampak ekonominya belum terbukti signifikan. Sejumlah perusahaan AI diketahui menjadikan Bitcoin sebagai jaminan pinjaman.
“Kalau perusahaan-perusahaan ini gagal bayar, aset spekulatif seperti Bitcoin akan dijual lebih dulu. Ini bisa menciptakan spiral penurunan yang dalam,” katanya.
Reiner memperkirakan, jika periode 2022–2023 menciptakan banyak orang kaya baru dari kripto, maka 2026 justru berpotensi melahirkan “orang miskin baru” dari berbagai instrumen keuangan, termasuk saham dan komoditas.
UMKM Masih Jadi Penopang
Meski demikian, Reiner menilai peluang usaha masih terbuka, terutama di sektor mikro dan domestik. Beberapa sektor yang dinilai relatif tahan terhadap tekanan ekonomi antara lain industri wellness dan gaya hidup, anti-aging, pendidikan anak dan remaja, serta hiburan berbasis kesehatan.
Namun, ia mengingatkan bahwa tidak semua sektor aman. Industri kehutanan dan pertambangan tertentu disebut memiliki risiko tinggi akibat pengawasan hukum yang semakin ketat dan meningkatnya barrier of entry.
Untuk bisnis jangka pendek, Reiner menyarankan pelaku usaha berhati-hati memasuki sektor makanan dan minuman (FnB). “Barrier of entry-nya terlalu rendah, persaingan sudah sangat padat, dan mudah ditiru. Tingkat kegagalannya tinggi,” ujarnya.
UMKM, menurut Reiner, tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Namun tantangan utamanya adalah akses pembiayaan. Meski skema kredit UMKM tersedia, perbankan masih dibayangi risiko non-performing loan.
Baca Juga: Ferizy Tembus 3,23 Juta Pengguna, ASDP Percepat Digitalisasi Tiket 100% Secara Nasional
“Kalau kredit kecil, misalnya 10–20 juta rupiah, bisa dipermudah, dampaknya besar bagi ekonomi riil. Ini jauh lebih efektif untuk menggerakkan roda ekonomi,” kata dia.
PHK dan Daya Beli Jadi Simalakama
Reiner juga menyoroti gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berpotensi menekan daya beli masyarakat. Di satu sisi, pemerintah mendorong pertumbuhan UMKM, tetapi di sisi lain konsumen justru melemah.
“Ini simalakama. Karena itu kebijakan untuk pekerja dan pengusaha harus saling mendukung,” ujarnya.
Ia menilai mahalnya biaya produksi dalam negeri masih menjadi persoalan utama. Tanpa pemerataan teknologi dan investasi di sektor pertanian, peternakan, dan industri, produk Indonesia akan terus kalah bersaing dengan negara seperti Thailand dan Vietnam.
Selain itu, Indonesia dinilai belum serius mengembangkan sistem vokasi berbasis wilayah yang terintegrasi dengan kebutuhan industri, sebagaimana dilakukan China dan Jepang.
Jangan FOMO, Hormati Uang
Melalui seminar ini, Reiner menekankan pentingnya literasi finansial bagi individu. Ia mengingatkan pengusaha dan investor untuk tidak terjebak fear of missing out (FOMO) dalam mengambil keputusan investasi.
“Lebih baik tidak untung daripada rugi. Untung kecil tetaplah untung,” kata dia.
Menurut Reiner, sikap paling penting dalam menghadapi 2026 adalah menghormati uang sebagai hasil jerih payah, bukan sekadar alat spekulasi.
“Kalau kita tidak melakukan hal yang berbeda, hasilnya juga tidak akan berbeda,” ujarnya.





