spot_img

Kontroversi Konser Jean-Michel Jarre di Registan Square Samarkand

Must read

Samarkand, Uzbekistan – Acara penampilan ikonik dari musisi elektronik asal Prancis, Jean-Michel Jarre, di Registan Square pada Sabtu (1/11)  awalnya dirancang sebagai penghormatan yang memukau untuk UNESCO, sehubungan dengan Konferensi Umum ke-43 di kota Samarkand, yang dijuluki Ibukota Peradaban Islam Dunia oleh UNESCO.

Akan tetapi, menurut sejumlah pakar budaya, pertunjukan ini malah menimbulkan kekecewaan estetika yang mendalam, dengan mengorbankan kemegahan situs bersejarah yang telah tegak berdiri selama ratusan tahun. Lapangan ikonik ini, yang diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2001, sering disebut sebagai mahkota Jalur Sutra berkat mozaik biru yang mempesona serta arsitektur Timurid yang sarat nilai sakral. Sayangnya, sorotan laser yang meledak-ledak, proyeksi 3D, dan cahaya neon yang mencolok justru mengubahnya menjadi arena pesta kontemporer yang terasa asing dan tidak harmonis.

Sebagai Duta Goodwill UNESCO yang telah menjabat lebih dari tiga dekade, Jarre memulai konsernya dengan ungkapan dedikasi yang tulus dan berapi-api.

“Saya sangat mengagumi organisasi ini; saya mengagumi tim UNESCO yang bekerja keras membentuk masa depan kita. Saya ingin mendedikasikan konser ini untuk Audrey Azoulay, Direktur Jenderal selama delapan tahun terakhir, yang membuka pintu UNESCO ke abad ke-21, dan mempromosikan secara modern perdamaian, budaya, hak setara, sains, dan pendidikan di seluruh planet,” demikian Jarre menyatakan dalam orasinya.

Ribuan orang menyaksikan secara langsung di lapangan termasuk Kalimantan Post biro Jakarta, sementara tak sedikit pula yang mengikuti melalui siaran langsung secara global. Karya-karya elektronik khas Jarre, yang kerap menekankan dialog antarperadaban dan kesadaran ekologis, pada dasarnya selaras dengan visi UNESCO. Namun, kenyataannya, pemilihan lokasi konser di Registan Square justru menjauhkan UNESCO dari tujuan visinya.

Secara estetika, perubahan Registan menjadi perpaduan “cahaya dan suara” bagai sebuah invasi. Desain arsitektur lapangan ini—meliputi madrasah Registan, Ulugh Beg, dan Tilya-Kori dengan ukiran-ukiran indahnya yang sangat rumit, sejak awal dikagumi sebagai ikon kedamaian rohani dan kelestarian sejarah yang abadi. Hal itu tentu berlawanan dengan proyeksi 3D dan laser yang menyilaukan dan bergerak cepat mewakili kemajuan teknologi mutakhir.

Penempatan rigging lampu dan sound sistem, malah menyelimuti detail halus pada mozaik serta kubah-kubahnya, sehingga mengonversi tempat suci ini menjadi sekadar backdrop untuk pesta malam ala klub.

“Ini seperti mengecat Mona Lisa dengan neon—sebuah inovasi yang memaksakan diri, bukan yang menghargai,” ujar seorang arkeolog asal Uzbekistan yang memilih untuk tidak disebutkan identitasnya, sambil menyoroti bagaimana unsur-unsur kontemporer ini kaburkan inti esensi Registan Square yang telah lestari sejak abad ke-15.

Keluhan semacam ini sebenarnya bukanlah yang pertama bagi pertunjukan Jarre, yang terkenal dengan atraksi visual bombastisnya, seperti di Piramida Giza atau Place de la Concorde. Di Samarkand, meski begitu, situasinya jauh lebih rumit dan sensitif. Registan bukanlah sekadar zona rekreasi biasa; ia melambangkan perdamaian dan warisan yang dijaga UNESCO demi kepentingan generasi masa depan. Penggunaan efek cahaya yang berlebihan berpotensi membahayakan bahan-bahan rentan seperti batu marmer dan plester, khususnya dalam kondisi iklim kering Uzbekistan yang dapat mempercepat kerusakan melalui panas yang dihasilkan proyektor. Selain itu, beberapa penduduk setempat pun menyuarakan ketidakpuasan serupa di platform media sosial: “Kami bangga dengan UNESCO, tapi mengapa harus mengorbankan keindahan asli kami demi ‘tribut’ yang terasa seperti iklan?”

Walaupun begitu, peristiwa ini tetap berhasil menggaet sorotan internasional terhadap konferensi UNESCO, yang dijadwalkan berlangsung sampai 13 November 2025. Jarre sendiri telah lama memanfaatkan musiknya guna memperkuat mandat organisasi, mulai dari kampanye perdamaian hingga peningkatan kesadaran lingkungan.

Oleh karena itu, kejadian ini memunculkan isu mendasar yang patut direnungkan: Haruskah kemajuan digital selalu mengorbankan fondasi budaya yang kokoh? Di saat UNESCO terus berupaya menjaga warisan global, penampilan Jarre di Registan berfungsi sebagai peringatan getir bahwa garis pemisah antara penghargaan dan pemanfaatan berlebih sering kali kabur. Bagi Samarkand, yang baru saja menjamu acara berskala dunia ini, bekas luka estetika mungkin akan pudar seiring waktu, tetapi perdebatan seputar pelestarian nilai sakral pasti akan terus menggema.(rfz)

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article