spot_img

Karbon Biru, Potensi Raksasa Indonesia untuk Menyimpan Karbon dan Dorong Ekonomi Hijau

Must read

Jakarta, businessreview.id – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat bahwa Indonesia memiliki potensi besar sebagai penyimpan karbon biru—jauh lebih unggul dibandingkan ekosistem daratan.

Ketua Tim Kerja Perencanaan Strategis dan Lintas Sektor KKP, Ade Wiguna, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis, menjelaskan bahwa ekosistem karbon biru seperti hutan mangrove dan padang lamun (seagrass) berperan penting dalam menyerap serta menyimpan karbon dioksida (CO₂). Ketahanan penyimpanannya bahkan bisa bertahan ratusan hingga ribuan tahun di dalam sedimen laut.

“Ekosistem karbon biru ini mampu menyimpan dua sampai lima kali lebih besar dibandingkan hutan daratan,” ungkap Ade.

Apa Itu Karbon Biru?

Karbon biru adalah istilah untuk karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem pesisir dan laut, terutama mangrove, padang lamun, dan rawa pasang surut. Ekosistem ini menyerap CO₂ dari atmosfer melalui proses fotosintesis, lalu menyimpannya dalam jangka panjang di biomassa maupun sedimen laut.

Kelebihan Karbon Biru

  1. Daya Serap Tinggi: Mampu menyimpan karbon 2–5 kali lebih banyak dibandingkan hutan darat.
  2. Ketahanan Penyimpanan: Karbon bisa terkunci di sedimen hingga ribuan tahun.
  3. Perlindungan Pesisir: Mangrove dan lamun melindungi pantai dari abrasi, badai, dan tsunami.
  4. Biodiversitas Tinggi: Menjadi habitat bagi berbagai biota laut, termasuk ikan yang mendukung ketahanan pangan.
  5. Potensi Ekonomi: Bisa dimonetisasi melalui skema perdagangan karbon dan kredit karbon biru.

Potensi Karbon Biru Indonesia

Ade menyebut potensi Indonesia sangat masif:

  • Hutan mangrove seluas 3,4 juta hektare menyimpan sekitar 887 juta ton karbon.
  • Padang lamun seluas 1,8 juta hektare menyimpan sekitar 190 juta ton karbon.

Namun, potensi besar ini menghadapi tantangan serius. Sejak 1980–2000, Indonesia kehilangan sekitar 52.000 hektare mangrove setiap tahun akibat alih fungsi lahan, khususnya menjadi tambak. Sementara itu, padang lamun kehilangan sekitar 10 persen luasannya hanya dalam satu dekade terakhir.

Baca Juga: Zulhas: Kopdes Merah Putih Jadi Fondasi Ekonomi Kerakyatan Berbasis Desa

Selain degradasi ekosistem, polusi plastik, limbah industri, aktivitas pertambangan, rendahnya kesadaran masyarakat, konflik kepentingan ruang pesisir, keterbatasan data, serta minimnya pendanaan juga menjadi hambatan utama.

Strategi Pemerintah

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah melalui Renstra KKP 2025–2029 akan mengedepankan pendekatan holistik, integratif, dan spasial. Langkah-langkah strategis mencakup:

  • Perlindungan dan rehabilitasi kawasan karbon biru.
  • Pemetaan kawasan dan penguatan data melalui ocean accounting serta ocean big data.
  • Monetisasi kredit karbon biru melalui nilai ekonomi karbon.
  • Pembangunan ocean monitoring system.
  • Skema pendanaan inovatif untuk konservasi.
  • Peningkatan kapasitas dan kesadaran masyarakat pesisir.

Menurut Ade, seluruh program ini bertujuan memastikan potensi karbon biru Indonesia dapat dikelola optimal demi keberlanjutan lingkungan sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. (*)

Baca Juga: Xiaomi Kembali Duduki Puncak Pasar Smartphone Indonesia di Kuartal Pertama 2025

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article