9 Destinasi Wisata di Kediri yang Cocok untuk Menikmati Liburan Slow Living

9 Destinasi Wisata di Kediri yang Cocok untuk Menikmati Liburan Slow Living
9 Destinasi Wisata di Kediri yang Cocok untuk Menikmati Liburan Slow Living. (foto ilustrasi di Gunung Kelud)

Businessreview.id Di tengah tren liburan yang serba cepat, berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain dengan jadwal padat untuk mengejar tempat-tempat ramai, Kediri justru menawarkan sesuatu yang berlawanan. Kota ini tidak memaksa untuk segera berpindah dari satu tempat, tidak menuntut tren. Tetapi mengajarkan untuk sepenuhnya hadir dan mengamati setiap cerita dari destinasi wisatanya.

Hal inilah yang ditangkap begitu jelas pada video Exploride Kediri. Lewat sebuah serial perjalanan dengan bersepeda, Kediri diperkenalkan bukan sebagai destinasi wisata besar dengan padatnya atraksi yang berjarak beberapa kilometer saja, melainkan sebagai destinasi yang memberi ruang untuk pengunjungnya dari lelahnya kesibukan aktivitas sehari-hari.

Kediri menjadi sebuah kota yang cocok untuk dinikmati dengan kayuhan sepeda daripada kendaraan bermotor. Dengan rasa ingin tahu, alih-alih seabrek daftar tujuan. Lalu, apa saja yang bisa kamu temukan di Kediri? Berikut 10 destinasi wisata yang cocok dinikmati dengan ritme pelan dan sepenuhnya hadir!

  1. Bandara Dhoho International

Perjalanan dimulai dari bandara yang menghadirkan wajah modern Kediri, sebagai pintu masuk menuju kehidupan yang beranjak lebih perlahan. Tata ruangnya bersih dan terang, diperkaya dengan elemen visual pewayangan Panji Asmarabangun—sebuah pembuka cerita yang menghubungkan perjalanan fisik dengan narasi budaya.

2. Goa Selomangleng

Goa sunyi di kawasan tebing batu ini menyimpan sejarah pertapaan Dewi Kilisuci. Pahatan di dinding goa menjadi simbol pengendalian diri, menjadikannya ruang refleksi yang alami dan tanpa distraksi.

3. Gereja Puhsarang

Terletak di kaki Gunung Wilis, Gereja Puhsarang dikenal dengan arsitekturnya yang menyatu dengan alam. Tempat ini terbuka bagi semua pengunjung, menjadikannya ruang spiritual sekaligus destinasi wisata yang menenangkan.

4. Gazebo Wilis

Diawali dengan melewati Kelok 9 Besuki, jalur berkelok yang menanjak di lereng Gunung Wilis, tantangan itu terbayar lunas begitu tiba di ujung tanjakan. Gazebo Wilis hadir sebagai titik pandang yang sederhana namun menenangkan. Dari ketinggian ini, lanskap Kediri terbentang luas tanpa kesan megah berlebihan—memberi ruang hening untuk berhenti sejenak, mengatur napas, dan melihat perjalanan dari sudut yang lebih lapang.

5. Klenteng Tjoe Hwie Kiong

Klenteng tertua di Kediri ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kebudayaan dan kebersamaan komunitas Tionghoa. Tradisi dan nilai lintas generasi masih hidup di ruang ini.

6. Sumber Tawang Stable

Destinasi berkuda ini tentu menawarkan pengalaman yang tidak biasa dan berbeda dari kebanyakan aktivitas di kota besar. Aktivitas berkuda di sini menekankan hubungan, kepercayaan, dan ritme antara penunggang dan kuda—selaras dengan filosofi perjalanan pelan.

7. Goa Jegles

Goa alami dengan jalur kayu menurun ini menyuguhkan suasana sejuk dan alami. Aliran sungai dan kolam ikan koi di sekitarnya menambah kesan damai dan bersahaja.

8. Bukit Ongakan & Alas Simbar

Bukit Ongakan menawarkan perbukitan terbuka dengan panorama luas ini kerap diselimuti kabut tipis. Dari punggung bukit, lanskap Kediri terlihat ringan dan tenang. Dilanjut dengan perjalanan menuju Alas Simbar yang menghadirkan ruang terbuka sunyi dengan hamparan savana yang mengiringi, menjadi tempat yang ideal untuk berhenti sejenak, berfoto, dan menikmati sunyinya Kediri.

9. Gunung Kelud

Sebagai penutup perjalanan, Gunung Kelud menawarkan lanskap vulkanik yang kuat namun hening. Menyaksikan kawah, berkemah sederhana, dan menikmati kopi hangat menjadi bentuk kemewahan yang lahir dari kesederhanaan.

Video Exploride Kediri tidak berusaha “menjual” kota ini dengan narasi bombastis, melainkan mengajak penonton bersepeda, menepi, dan membiarkan tempat-tempat itu bercerita sendiri. Di balik produksi ini, Polygon Bikes bersama InJourney dan Dhoho International Airport melihat Kediri sebagai peluang narasi baru dalam pariwisata Indonesia: destinasi yang tidak harus ramai dan mengejar tren.

Pendekatan ini sejalan dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Kediri yang melihat potensi besar pada wisata berbasis pengalaman dan keberlanjutan. Bukan sekadar membangun destinasi, tetapi merawat cara orang datang dan tinggal lebih lama.

Sutradara Exploride, Rendi Saputra, menceritakan dengan gamblang setiap proses dari produksi video. Dari riset lokasi, pemilihan rute bersepeda yang mempertimbangkan ritme cerita, pemilihan tim lapangan, hingga setiap keputusan untuk membiarkan momen berjalan apa adanya.

Bagi pria yang akrab disapa Rendis, setiap perjalanan selalu diawali dengan satu pertanyaan sederhana: bagaimana sebuah tempat ingin diceritakan. “Kami ingin menempatkan diri sebagai pengunjung yang datang dengan rasa ingin tahu. Dan bersepeda membantu kami memahami jarak, waktu, dan suasana—hal-hal yang sering hilang jika perjalanan dilakukan terlalu cepat,” ujarnya.

Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, mendukung baik setiap inisiasi untuk mengangkat citra Kediri dan akan memberikan sarana-prasarana terbaik untuk beberapa destinasi wisata ikonik Kediri. “Beberapa wisata unggulan di Kabupaten Kediri harus dilakukan pembenahan dari berbagai sektor, mulai aksesibilitas hingga fasilitas pendukung,” jelas pria yang akrab disapa Mas Dhito.

Lewat sudut pandang yang sederhana, Exploride berhasil membaca ulang Kediri. Bukan sebagai kota yang perlu dibuktikan, melainkan kota yang cukup didatangi dengan rasa ingin tahu. Di sanalah Kediri menemukan tempatnya sebagai destinasi slow living—sebuah ruang liburan bagi mereka yang ingin memperlambat langkah, menarik napas panjang, dan kembali pulang dengan perasaan utuh.

Polygon Exploride.
Ride the culture. Ride the challenge. Ride the wonder.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here